Saturday, July 11, 2015

MENGENAL KOTA BUKHARA, KOTA KELAHIRAN IMAM BUKHARI (1/2)

Sejarah Perkembangan

Ada yang mengatakan, kota Bukhara dibangun oleh seorang pemimpin Iran yang bernama Siyâvaš. Putra Raja Kaykaus. Siyâvaš lari dari kerajaan karena sang ayah murka padanya. Kemudian ia menemui raja Kerajaan at-Turk, Afrasiab. Raja at-Turk ini memuliakannya dan menikahkannya dengan salah seorang putrinya. Kemudian memberinya sebuah wilayah kekuasaan. Wilayah itulah yang saat ini kita kenal dengan Bukhara.

Siyâvaš membangun Bukhara. Kemudian setelah Bukhara kuat, ia berbalik menyerang dan membunuh Afrasiab.

Bukhara adalah salah satu kota penting di wilayah Khurasan. An-Narsyakhi, penulis kitab Tarikh Bukhara, mengatakan, “Daerah Bukhara adalah wilayah padang belantara yang banyak dihuni hewan buas. Dilewati oleh Sungai Zeravshan. Gunung-gunungnya tinggi dengan puncak putih bersalju. Orang-orang datang ke daerah tersebut karena segar dan bersihnya udaranya. Para penduduknya dipimpin oleh seorang tetua”.

Sejak abad ke-5 M, orang-orang China menyebut wilayah ini dengan nama Nome (Arab: نومي). Ada yang mengatakan, nama Bukhara diambil dari kata Bakhr (Arab: بخر) dan padanan dalam Bahasa Sansekerta adalah Vihara, yakni tempat ibadah. Dikatakan bahwa Bukhara dahulu adalah sebuah wilayah peribadatan orang-orang Budha sebelum datangnya Islam.

Literatur-literatur berbahasa Arab menyebutkan bahwa penduduk asli Bukhara adalah Bakhãr Khudat (Arab: بخار خداة) atau Bukhãra Khudãh (Arab: بخارا خداه). Persitiwa-peristiwa penting di kota ini baru terjadi setelah masuk ke dalam wilayah Islam.

Masuknya Islam di Bukhara

Sebelum Islam datang, penduduk Bukhara adalah orang-orang paganis yang menyembah sebuah berhala yang bernama Makh. Mereka beribadah dan memberi persembahan kepada berhala tersebut setahun sekali. Periwayat sejarah sepakat bahwa orang Islam pertama yang melintasi pegunungan di Bukhara adalah Ubaidullah bin Ziyad. Ia merupakan gubernur Daulah Umayyah untuk wilayah Khurasan di masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Saat memimpin Khurasan, usia Ubaidullah bin Ziyad masih sangat belia. Baru 25 tahun. Penunjukkannya sebagai gubernur bukanlah sesuatu yang gegabah. Di usianya yang ke-24 tahun saja, Ubaidullah telah mampu mencapai Sungai Jeyhun. Dan saat itu Bukhara dipimpin oleh seorang janda yang mereka agungkan dengan panggilan Khatun (Arab: خاتون). Ini adalah sebutan dalam Bahasa Turk yang berarti sayyidah dalam Bahasa Arab.

Kemudian terjadi pertempuran antara Khatun berhadapan dengan kaum muslimin. Karena kalah, Khatun meminta perjanjian damai dan jaminan keamanan. Ubaidullah bin Ziyad mengabulkan permintaannya dan menerima 1juta dirham dari perjanjian damai tersebut. Kemudian Ubaidullah kembali ke Bashrah.

Setelah itu, Muawiyah mengangkat Said bin Utsman bin Affan sebagai wali daerah Khurasan. Ia memasuki wilayah Samarkand. Dan kemudian Khatun menolongnya menghadapi penduduk Bukhara (Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi: Dar ash-Shadr Cet.II. Hal. 354-355).

Pembebasan Bukhara oleh Qutaibah bin Muslim

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik al-Umawi adalah pemimpin Arab pertama yang melakukan pembangunan berkelanjutan di Bukhara. Berkat kebijakannya –setelah takdir Allah ﷻ- Islam di Bukhara kokoh dan tersebar. Hal itu juga berkat usaha gubernurnya di wilayah Irak, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, yang memerintahkan Qutaibah bin Muslim al-Bahili di Khurasan untuk membuka wilayah negeri seberang sungai.

Qutaibah berhasil membebaskan Bukhara pada tahun 90 H yang saat itu dikuasai Wardan Khudãh. Meskipun bersama sekutunya dari orang-orang Turk, Wardan tetap berhasil dikalahkan oleh Qutaibah. Kemudian Qutaibah berhasil menaklukkan penguasa-penguasa Bukhara lainnya.

Daerah seberang sungai termasuk daerah yang sulit dikuasai secara penuh. Awalnya, penduduknya memeluk Islam. Kemudian murtad dan melakukan pemberontakan. Qutaibah mengambil pelajaran dari apa yang terjadi sebelumnya. Setelah berhasil menaklukkan Bukhara, ia menempatkan orang-orang Arab agar tetap tinggal dan membaur dengan masyarakat di sana. Pendekatan yang dilakukan Qutaibah terbukti berhasil. Keislaman penduduk Bukhara baik dan Islam pun kokoh di sana. Keadaan pun menjadi stabil. Dengan stabilnya keadaan barulah pembangunan dapat berjalan.

Kota tua di Bukhara, menunjukkan begitu tingginya peradaban Bukhara di masa silam.
Kota tua di Bukhara, menunjukkan begitu tingginya peradaban Bukhara di masa silam.
Qutaibah membangun istana-istana. ia juga membangun Masjid Jami’ di dalam benteng Bukhara. Masjid tersebut menggeser tempat-berhala-berhala di sana. Semakin banyak masyarakat yang memeluk Islam, semakin banyak pula masjid dibangun. Hingga di masa Harun al-Rasyid masjid-masjid dibangun di daerah-daerah perbatasan.

Kota Bukhara pun kian berkembang. Aktivitas perdagangan dan industri kian menggeliat. Penduduknya kian makmur. Dan pendapatan daerahnya kian meningkat. Hingga tokoh-tokoh besar terlahir dari wilayah ini. Di antaranya Imam al-Bukhari yang lahir pada tanggal 13 Syawwal 194 H.

Bukhara di Masa Daulah Samaniyah

Awalnya, Bukhara berada di bawah pemerintahan Khurasan. Keadaan ini terus berlangsung hingga tahun 279 H/892 M. Saat Nashr bin Ahmad as-Samani memimpin Samarkand, Bukhara masuk ke dalam wilayah Samarkand. Adik Nashr yang bernama Ismail membangun Bukhara atas permintaan warga dan para ulamanya. Saat Nashr wafat, adiknyalah yang menggantikannya memerintah di negeri-negeri seberang sungai itu. Bukhara pun dijadikan ibu kota Daulah Samaniyah. Ia menjadi pusat pendidikan dan industri.

Sitorai Mokhi-Khossa, salah satu monumen terindah di Bukhara.
Sitorai Mokhi-Khossa, salah satu monumen terindah di Bukhara.
Ats-Tsa’alabi memuji perkembangan pesat Bukhara. Ia mengatakan, “Bukhara di masa Daulah Samaniyah adalah tempat yang terhormat dan tumpuan raja. Ia juga tempat tokoh-tokoh di zamannya. Tempat lahirnya bintang-bintang sastrawan dunia. Dan masa-masa yang penuh keutamaan…” (Yatimatu ad-Dahr fi Muhasin Ahli al-Ashr oleh Abu Manshur ats-Tsa’alabi: Tahqiq oleh Mufid Muhammad Qamhiyah: Cet.I Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut: 4/155).

Bukhara di Masa Pemerintahan Mongol

Setelah Daulah Samaniyah runtuh pada tahun 389 H/999 M, Bukhara kehilangan peranan pentingnya dalam politik. Namun di masa kemundurannya, ia tetap memegang peranan penting sebagai pusat kajian Islam. Kemudian pada tahun 604 H/1207 M, kota kelahiran Imam Bukhari ini diperintah oleh Alauddin Muhammad bin Taksy Khawarizm Syah. Ia memperbarui Bukhara dan membangun kembali kota tersebut.

Dalam kurun perjalanannya, Bukhara mengalami masa pasang dan surut. Masa suka dan duka. Sampai akhirnya musibah besar mendatangi dunia Islam. Pasukan Tatar masuk ke wilayah Islam termasuk wilayah Bukhara.

Pada tanggal 4 Dzul Hijjah 616 H, Bukhara jatuh ke tangan pasukan Jenghis Khan. Kota yang menjadi pusat ilmu negeri seberang sungai itu dijarah dan dibakar. Tidak tersisa kecuali Masjid Jami’ dan sebagian istana. Beruntungnya kerusakan parah itu bisa kembali pulih saat putra Jenghis Khan, Ogedei Khan, menggantikan ayahnya memerintah Mongol.

Pada tahun 636 H, penduduk Bukhara melakukan perlawanan terhadap Mongol. Akan tetapi perlawanan itu berhasil dipadamkan. Kemudian di tahun 671 H/1273 M, bencana kembali melanda Bukhara. Pasukan Mongol pimpinan Abaqa Khan –penguasa Mongol wilayah Persia- menguasai Bukhara. Mereka melakukan pengrusakan dan mengusir penduduknya. Kemudian dilakukan renovasi kembali. Namun anehnya, Mongol Persia kembali melakukan pengrusakan untuk kedua kalinya pada tahun 761 H/1359 M. Dan pada masa Dinasti Mongol Timuriyah, Bukhara tidak lagi memegang peranan penting di wilayah seberang sungai.

——-
Selanjutnya, insya Allah akan dibahas Bukhara di era modern. Negeri seberang sungai dengan peradaban tinggi itu kini menjadi bagian negeri-negeri berakhiran “Stan” bekas jajahan Uni Soviet. Mereka menjadi wilayah miskin yang peradabannya hanyalah tinggal kenangan.

Sumber:
– islamstory.com/ar/
– https://bukhariyon.wordpress.com/2009/11/29/history-of-bukhara/

FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH

FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH

Mengenal Fisik Ka’bah:
Bagian Luar

Bentuk Ka’bah kira-kira segi empat, dibangun dengan batu biru yang keras. Tingginya sampai 15 m. Panjang sisi tempat pancuran air mizab dan sisi depannya adalah 10,1 m. Panjang sisi tempat pintu Ka’bah dan belakangnya adalah 12 m. Pintu Ka’bah setinggi 2 m dari lantai, naik dengan menggunakan tangga seperti tangga mimbar. Saat ini, tangganya terbuat dari kayu berlapis perak yang dihadiahkan oleh salah seorang pengusaha India ke Ka’bah. Tangga tersebut tidak diletakkan di dekat Ka’bah kecuali jika pintu itu akan dibuka untuk kunjungan dalam momen-momen tertentu. Tidak lebih dari 15 kali setahun.
Mengenal Ka'bah
Mengenal Ka’bah
Di sudut sebelah kiri pintu Ka’bah, terdapat Hajar Aswad. Tingginya 1,5 m dari atas lantai thawaf. Orang Arab menyebut sudut (rukun) Ka’bah sesuai arah kemana rukun itu menghadap. Yang menghadap ke Utara dinamai rukun Irak. Yang menghadap ke Barat dinamai rukun Syam. Ke Selatan rukun Yamani. Dan yang ke Timur dinamai rukun Hajar Aswad karena Hajar Aswad berada di sudut tersebut.

Hajar Aswad adalah sebuah batu mengkilat berbentuk oval tidak beraturan. Warnanya hitam kemerah-merahan. Di batu itu terdapat warna merah dengan garis-garis kuning bekas penempelan potongan-potongan Hajar Aswad yang pecah. Diameternya kurang lebih 30 cm. dan dikelilingi dengan bingkai perak setebal 10 cm.

Pancuran yang muncul dari atas atap di bagian tengah dinding rukun utara dan rukun barat adalah mizab rahmah. Mizab ini dibuat oleh al-Hajjaj bin Yusuf dengan tujuan agar air tidak tergenang di atap Ka’bah. Pada tahun 959 H, Sultan Sulaiman al-Utsmani mengganti ujungnya dengan bahan perak. Kemudian pada tahun 1021 H, Sultan Ahmad al-Utsmani mengganti ujungnya dengan perak berukir yang ditulis dengan tinta biru berselang-seling emas. Pada tahun 1273 H, Sultan Abdul Majid al-Utsmani mengirim pancuran air yang seluruhnya terbuat dari emas. Mizab atau pancuran air itulah yang ada sampai sekarang ini.

Di depan mizab terdapat al-hatim. Yaitu bangunan melengkung setengah lingkaran yang kedua ujungnya berada di rukun utara dan barat dengan jarak 2,3 m. Tingginya 1 m dan tebalnya 1,5 m. Bagian ini dibeton dengan batu pualam berukir. Dan di sepanjang bagian atas terdapat tulisan yang dipahat. Jarak dari tengah dinding bagian dalam ke dinding Ka’bah 8,44 m. Ruang yang ada di antara keduanya disebut Hijir Ismail. Tiga meter dari ruang ini, pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam termasuk bangunan Ka’bah. Ada yang menyatakan bahwa Hajar dan Ismail dimakamkan di tempat ini.
Bagian Dalam
Gambar 1
Gambar 1
Gambar 1: Salah satu rukun atau sisi Ka’bah al-Musyarrfah. Tampak di bagian atas bagian kain kiswah dalam yang khusus untuk Ka’bah.
Gambar 2
Gambar 2
Gambar 2: Lemari di dalam Ka’bah. Posisi lemari ini tepat berada di depan pintu Ka’bah –jika dilihat dari bagian dalam. Di atasnya biasa diletakkan alat pewangi dari asap kayu gaharu yang khusus untuk mengharumi ruangan Ka’bah. Biasanya hal ini dilakukan setelah prosesi pencucian Ka’bah. Di dalam lemari ini juga tersimpan semacam kapur pewangi yang beraroma mawar untuk membaluri dinding Ka’bah agar tetap wangi. Hal itu juga dilakukan setelah dinding-dinding Ka’bah dicuci dengan air zam-zam yang dicampuri dengan air mawar.
Gambar 3
Gambar 3
Gambar 3: Ini adalah tempat shalat Rasulullah ﷺ ketika beliau memasuki Ka’bah yang mulia. Raja-raja, gubernur-gubernur Mekah al-Mukaramah, atau tamu kerajaan selalu shalat di tempat ini sebelum memulai prosesi pencucian Ka’bah yang mulia. Mungkin setelahnya bisa jadi orang-orang yang turut serta dalam prosesi pencucian Ka’bah atau masyarakat biasa ikut shalat pula di tempat ini. Kita memohon kepada Allah termasuk orang-orang yang mendapatkan keutamaan itu.
Gambar 4
Gambar 4
Gambar 4: Bagian kecil di dinging Ka’bah berupa batu tertentu. Posisinya menghadap tempat shalat Nabi ﷺ tadi. Pada batu tersebut tertulis kalimat “laa ilaaha illallaah, Muhammad rasulullah”.
Gambar 5
Gambar 5
Gambar 5: Sebuah pintu yang terdapat di dalam Ka’bah. Pintu ini bukanlah pintu utama Ka’bah. Pintu ini dinamakan pintu taubat. Di dalam pintu tersebut terdapat tangga menuju kea tap Ka’bah.
Gambar 6
Gambar 6
Gambar 6: Tiga buah tiang di dalam Ka’bah. Tiang ini terbuat dari kayu yang terbaik dan disepuh dengan emas murni. Bagian atasnya terlihat kain kiswah bagian dalam yang berwarna hijau. Tampak juga pada gambar ini lampu-lampu kecil, tempat pengasapan kayu gaharu, dan wadah-wadah. Benda-benda tersebut adalah hadiah pemberian dari para khalifah, para sultan, para amir, dan para raja sepanjang sejarah Islam untuk Ka’bah yang mulia.
Gambar 7
Gambar 7
Gambar 7: Terlihat 3 tiang lainnya yang berada di dalam Ka’bah. Tiga buah tiang yang terbuat dari kayu yang terbaik dan disepuh dengan emas murni. Tampak pada gambar pintu masuk Ka’bah atau dikenal dengan Pintu Ka’bah. Pada gambar ini juga terlihat lemari yang berada di depan Pintu Ka’bah dan di atasnya terdapat alat untuk pengasapan kayu gaharu. Yang digunakan untuk mengharumkan ruang dalam Ka’bah.
Demikian FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH ini semoga menjadi pengetahuan apa yang terdapat dalam FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH.
Sumber Gambar: Facebook Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul
Daftar Pustaka:
– al-Kharbuthli, Ali Husni. 2013. Sejarah Kabah. Jakarta: Turos.

MENGENAL KOTA BUKHARA, KOTA KELAHIRAN IMAM BUKHARI (2/2)

Bukhara Periode Uzbek

Pada tahun 905 H, Bukhara dikuasai oleh orang-orang Uzbek. Kemudian dipimpin oleh dua amir dari kabilah Syaiban al-Uzbek. Ubaidullah bin Mahmud dan Abdullah bin Iskandar. Pada masa kepemimpinan mereka berdua, Bukhara kembali kepada tradisinya. Menjadi pusat perkembangan politik dan budaya. Demikian juga di masa kepemimpinan dua kabilah berikutnya; al-Janiyah (Arab: الجانية) dan al-Ostrakhaniyah (Arab: الأستراخانية).

Negeri seberang sungai
Negeri seberang sungai
Pada abad ke-10 H atau abad 17-18 M, para pemimpin Uzbek menjalin hubungan dengan Kekaisaran Rusia. Orang-orang Rusia menyebut semua orang-orang Asia Tengah atau Turkmenistan Timur dengan orang Bukhara. Tentu ini mengindikasikan kemasyhuran Kota Bukhara di negara beruang merah itu.

Masa Khan Abdul Aziz (1055-1091 H/1645-1680 M) adalah akhir dari masa keemasan Bukhara. Periode berikutnya adalah masa kemunduran dan perpecahan. Mereka terpecah-pecah hingga banyak sekali para amir di Bukhara dengan wilayah kekuasaan yang kecil.

Masa Penjajahan Rusia

Pada tahun 1153 H/1740 M, Bukhara dikuasai oleh Nadir Syah, raja Kerajaan Syiah Shafawi. Kekuasaan Shafawi atas Bukhara tidak berlangsung lama. Wilayah itu merdeka dari Shafawi setelah Nadir Syah wafat dan munculnya keluarga al-Manikitiya (Arab: المانگيتية). Dengan Muhammad Rahim Khan sebagai Khan pada tahun 1170 H. Kemudian ia mengembalikan identitas Bukhara sebagai kota Islam dan syariat.

Pada masa al-Amir Muzhaffaruddin Syah (1277-1302 H/ 1885-1860 M) pengaruh Rusia kian mencengkram negeri-negeri seberang sungai. Hal itu memaksa al-Amir Muzhaffaruddin menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia. Pada akhir abad ke-19 M, Rusia mulai mendirikan bangungan dan fasilitas modern di dekat wilayah Bukhara. Bahkan mereka menamainya pinggiran Bukhara itu dengan nama Bukhara modern.

Kemudian pada tahun 1302-1328 H/1885-1910 H, Abdul Ahad Khan memerintah Bukhara. Di masanya, ekonomi Bukhara mengalami peninggakatan. Kota budaya ini bertransformasi menjadi kota industri. Produksi besi, emas, dan wol menarik para investor dan para tenga kerja. Berkah yang didapatkan Bukhara, tidak lupa disumbangkan oleh Abdul Ahad Khan untuk pembangunan tanah suci Mekah dan Madinah.

Di tengah dominasi Rusia di wilayah-wilayah tetangga, Abdul Ahad Khan berusaha keras mempertahankan Bukhara sebagai wilayah Islam. Ia menjadikan tanah bersejarah ini sebagai wilayah yang independen sejak 1887 hingga 1920 M. saat itu, Rusia bahkan Inggris telah memasuki wilayah Afghanistan.

Setelah Amir Abdul Ahad Khan, anaknya Amir Alim Khan menggantikannya pada tahun 1328 H/1910 M. Ia berkuasa di Bukhara hingga tahun 1340 H/1922 M. Setelah itu, Rusia berkuasa penuh atas Bukhara. Hingga kemudian Rusia membagi-bagi wilayah Asia Tengah berdasarkan sukunya masing-masing; Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan, Kirgistan. Inilah tabiat kolonialisme. Membuat sekat dan garis batas rumpun yang sama. Adapun Bukhara, kota legendaris ini menjadi salah satu kota penting di wilayah Uzbekistan.

Masa pemerintahan komunis Rusia termasuk periode buruk bagi perkembangan Islam di Bukhara. Komunis tidak segan melakukan pelanggaran bahkan kekerasan untuk memaksakan doktrinnya. Para muslimah Bukhara dipaksa melepas jilbab-jilbab mereka. Dua puluhan ribu masjid yang ada di Uzbek ditutup oleh Stalin. Bahkan sebagiannya dijadikan gudang. Hingga saat Uzbekistan merdeka, tak sampai seratus masjid yang tersisa.

Bukhara Era Modern

Uzbekistan merdeka dari kekuasaan Rusia pada tanggal 31 Agustus 1991. Sejak saat itu, bangsa Tajik ini mulai mengurangi pengaruh Rusia yang sudah larut di masyaratkat. Sedikit demi sedikit nilai-nilai islami dimunculkan. Namun karena sudah begitu lama, orang-orang Uzbek pun sudah lupa akan Islam.

Tashkent, salah satu kota di Uzbekistan. Kota dengan warisan tata kota yang baik, namun dibenci turis karena budaya sogok menyogok masyarakatnya
Tashkent, salah satu kota di Uzbekistan. Kota dengan warisan tata kota yang baik, namun dibenci turis karena budaya sogok menyogok masyarakatnya
Bercerita tentang Bukhara, Uzbekistan, atau bahkan Asia Tengah secara umum di era modern, tentu jauh berbeda dibanding masa lalunya. Seolah-olah ada loncatan budaya dan paradigma. Dulu.. Asia Tengah memiliki peradaban yang tinggi. Menjadi pusat politik. Tempat berkumpulnya para sastrawan dan ulama. Serta menjadi pusat kajian Islam. Dulu.. Bahasa Arab, Persia, dan Turki terdengar dimana-mana. Dulu.. puisi dan sastra yang tinggi lahir di sini. Kesusastraan menjadi kebanggaan. Membedakan mereka dari gembala nomad di padang rumput.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang ceritanya jauh berbeda. Sekarang bahasa Rusia adalah bahasa pemersatu. Tradisi Islam terputus oleh puluhan tahun pemerintahan komunis. Shalat, puasa, huruf-huruf Arab, azan, begitu jauh dari banyak penduduk yang mengaku muslim di sini. Di Kota Bukhara ini. Umumnya muslim Asia Tengah tidak pernah berpuasa. Mereka juga jarang terlihat shalat. Praktik Islam hanya dilakukan oleh kalangan tua atau beberapa orang saja dari mereka. Seabad lebih kekuasaan komunis di negeri ini, benar-benar membuat cahaya Islam hampir padam dan tenggelam. Orang-orang Uzbek akan begitu kagum keheranan ketika ada seseorang yang menyapa dengan ‘asslamualaikum’. Karena sapaan itu sudah lama berganti dengan kata ‘halo’.

Peninggalan Islam di Bukhara

Peninggalan Islam di Bukhara masih cukup banyak. Lebih dari 140 situs sejarah Islam ada di sana –itu setelah banyak dihancurkan oleh Mongol dan komunis Rusia-. Di antaranya adalah:

– Masjid dan Menara Kalon atau Kaylan

Menara Kalon atau Kaylan
Menara Kalon atau Kaylan
Masjid ini dibangun oleh Arslan Khan pada tahun 1121 M. Saat Jenghis Khan memasuki Bukhara, ia membakar masjid dan membiarkan menaranya tetap utuh. Dikisahkan lebih dari 30.000 orang dibantai di Bukhara. Kepala manusia hingga membentuk piramida. Namun di depan Menara Kalon, Jenghis Khan terpekur. Menara ini ia biarkan sebagai pertanda penghormatannya akan kehebatan bangunan tersebut. Pada masa berikutnya Masjid Kalon dibangun kembali. Sehingga tampak perbedaan umur antara Menara Kalon dan Masjid Kalon. Kalau menaranya berusia hampir 1000 tahun, maka masjidnya baru berusia kira-kira 500-an tahun.

– Kubah Samani: Kubah ini dibangun oleh Ismail as-Samani pada tahun 892 M.

– Gerbang selatan salah satu Masjid Bukhara yang dibangun di abad ke-6 H oleh orang-orang al-Qarakhani (Arab: القراخانيون).

– Masjid Namazkah (Arab: نمازكاه) dibangun pada abad ke-6 H.

– Masjid Biland (Arab: بلند) yang dibangun pada abad ke-16 M

Ulama dan Tokoh Bukhara

Kota pusat studi keislaman ini melahirkan banyak ulama dan tokoh besar dalam sejarah. Di antaranya adalah:

Dari kalangan ulama yang masyhur adalah Ishaq bin Rahawaih dan Imam al-Bukhari. Jika dimasukkan tokoh-tokoh sejarah secara umum, maka seorang ilmuan terkenal Abu Ali al-Husein bin Abdullah bin Sina. Atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Sina. Juga lahir dari peradaban Bukhara.

Di wilayah Uzbekistan lainnya, daerah Khawarizm, dikenal seorang ilmuan matematika yang bernama Abu Abdullah Muḥammad bin Musa al-Khwarizmi. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan Algoritmi.

Kata Mereka Tentang Bukhara

– Masa Lalu:

Yaqut al-Hamawi mengatakan, “Tidak ada wilayah di seberang sungai dan Khurasan, sebuah daerah yang penduduknya paling tinggi peradabannya dibanding wilayah Bukhara. Penduduknya banyak dan merata. Hal ini hanya dimiliki oleh Bukhara…”

Yaqut menukil perkataan penulis ash-Shur, “Adapun yang paling istimewa di negeri seberang sungai, aku tidak pernah melihat, tidak juga sampai berita kepadaku di masa Islam, sebuah wilayah yang paling bagus di Khurasan kecuali Bukhara. Jika engkau naik ke tempat yang tinggi lalu melihat ke sudut manapun, yang engkau lihat hanyalah peradaban yang tinggi…” (Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi, 1/353).

Pemandangan Bukhara dilihat dari tempat yang tinggi
Pemandangan Bukhara dilihat dari tempat yang tinggi
– Masa Kini:

Keadaan ekonomi Uzbekistan termasuk Bukhara benar-benar dalam keadaa terpuruk. Ekonomi tidak karuan. Jumlah pengangguran terus melonjak. Dan hidup semakin susah. Mata uangnya benar-benar tidak berharga. Sampai-sampai Murtie Djuffan, salah seorang konsuler KBRI, mengatakan, “(Di Uzbekistan) Orang Jawa bilang, wong mati kabotan duit1. Di sini, orang bisa mati sungguhan karena keberatan duit. Di Uzbek, mau belanja tiket pesawat untuk sekeluarga, bawa uang satu kardus gede –karena mata uangnya tidak berharga-, terus jatuh, menimpa badan… mati.”

Agustinus Wibowo, seorang traveler di wilayah-wilayah Asia Tengah, mengatakan, “Hampir serratus tahun berada di bawah rezim komunis dan sekuler, karakter Islam di Uzbekistan banyak berubah. Madrasah menjadi museum atau toko. Masjid menjadi tempat wisata. Pasangan muda-mudi asyik bergandengan dan berpelukan menikmati arsitektur Islam… …kini gadis-gadis Tajik dan Uzbek berpakaian trendi ala Barat, mengenakan rok mini, hak tinggi dan stoking tembus pandang, bergandeng tangan dan menari dengan lelaki idaman hati. Tak jauh dari Masjid Bukhara juga dibangun diskotik bawah tanah, dimiliki oleh anggota keluarga presiden Islam Karimov –nama yang juga mengandung kata Islam-.”

Sebenarnya Bukhara atau Uzbekistan bukanlah sebuah wilayah yang serba kekurangan apabila dilihat dari sumber daya alamnya. Mereka memiliki hasil bumi seperti emas dan besi. Namun keberkahan itu hilang dengan sedikitnya syukur. Allah ﷻ timpakan musibah dengan penguasa-penguasa yang buruk karena dosa-dosa yang mereka perbuat. Kemudian keadaan mereka semakin buruk dengan tersebarnya akhlak-akhlak yang rendah.

Pelajaran

Masuknya Islam ke suatu daerah berdampak besar terhadap kemajuan wilayah tersebut.
Ketika Islam yang murni diterapkan, maka ia akan membawa keberkahan kepada penduduk dan daerahnya.
Komunisme sangat buruk pengaruhnya terhadap Islam dan kaum muslimin bahkan lebih buruk dari demokrasi liberal.
Umat Islam wajib bersyukur dengan nikmat Islam; mengimaninya dengan hati, mendakwahkannya, dan menerapkannya dalam amalan. Ketika mereka kufur, maka Allah ganti kemuliaan mereka dengan kehinaan dan keterpurukan.
Umat Islam hendaknya mengambil pelajaran dari sejarah mereka. Berpegang teguh dengan Islam bukanlah kemunduran. Justru jauh dari Islam-lah yang akan mendatangkan kemunduran.
Ket:
1. Ungkapan ini biasa digunakan untuk menggambarkan orang yang sangat kaya namun pelit, akhirnya ia mati tertimpa atau terkubur uang sendiri.

Sumber:
– Wibowo, Agustinus. 2012. Garis Batas; Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah. Jakarta: Gramedia.
– bukhariyon.wordpress.com
– islamstroy.com/ar

KISAH DUBAI DAN KEBENARAN SABDA NABI ﷺ

Kehidupan ini adalah nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan situasi kehidupan akhir zaman,

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”

Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.

Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran sabda Nabi.

Sabda Nabi ﷺ

Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia. Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat. Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).

Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُـولَ اللهِ، وَمَنْ أَصْحَابُ الشَّاءِ وَالْحُفَاةُ الْجِيَـاعُ الْعَالَةُ قَالَ: اَلْعَرَبُ.

“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).

Emirat Dubai

Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun 1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab. Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah ke-emiran yang paling populer.

Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia. Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba (Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.

Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA.

Dubai Sebelum Metropolis

Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.

Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum, keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi rumah rakyat biasa.

Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan ada hotel berbintang tujuh di sana.

Simaklah gambar dan video berikut untuk mengetahui kondisi Dubai sebelum menjadi kota metropolis:

Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970
Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970
Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an - 1970an.
Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an – 1970an.
Dubai pada tahun 1960an-1970an
Dubai pada tahun 1960an-1970an

17 RAMADHAN: PERANG BADAR

Setelah umat Islam mengalami intimidasi, kesulitan, dan duka meninggalkan kampung halaman mereka di Mekah. Meninggalkan harta dan keluarga di sana. Rasulullah ﷺ mengadakan rencana penyergapan kafilah Quraisy. Hal itu merupakan respon dari permusuhan yang mereka lakukan selama ini. Para sahabat Muhajirin dan Anshar pun berkumpul dan bersiaga melakukan penyergapan.

Namun rencana dan persiapan matang bukanlah sesuatu yang pasti terjadi. Manusia sekelas Rasulullah ﷺ pun hanya mampu berencana, namun Allah ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Penyergapan gagal. Kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb berhasil melarikan diri. Malah Quraisy berbalik melakukan persiapan matang untuk berperang. Mereka hendak memberi pelajaran kelompok kecil kaum muslimin agar orang-orang se-Jazirah Arab jangan pernah meremehkan Quraisy. Begitu kata Abu Jahal.

Nabi ﷺ bersama para sahabatnya keluar dari Madinah pada tanggal 12 Ramadhan tahun 2 H. Beliau ﷺ tidak mewajibkan setiap kaum muslimin untuk ambil bagian menuju Badar. Karena keberangkatan ini hanya bertujuan menyergap kafilah Quraisy bukan untuk berperang. Hanya untuk menghadang kafilah yang membawa 1000 onta, 50.000 dinar emas, dan hanya dijaga oleh 40 orang. Tentu saja hal ini sebagai balasan dari perbuatan Quraisy yang telah merampas harta mereka selama di Mekah. Namun sayang, rencana ini berhasil diketahui Abu Sufyan. Ia pun mengubah rute kafilahnya.

Mengetahui pergerakan umat Islam dari Madinah, Quraisy segera menyiapkan pasukan besar untuk berperang. Mereka membawa 1300 pasukan. 600 di antaranya pasukan berbaju besi. Dan 100 di antaranya penunggang kuda. Mereka juga membawa onta dalam jumlah yang besar. Sementara kaum muslimin hanya berjumlah 314 orang. Ada yang mengatakan 319 orang. 83 di antaranya adalah kaum Muhajirin.

Nabi ﷺ duduk khusyuk bermunajat kepada Rabbnya. Memohon pertolongan kepada Maha Penolong. Beliau ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no 1763).

Dalam riwayat lain

للّهُمّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ أَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا ، تُحَادّك وَتُكَذّبُ رَسُولَك ، اللّهُمّ فَنَصْرَك الّذِي وَعَدْتنِي ، اللّهُالْغَدَاةَ مّ أَحِنْهُمْ

“Ya Allah, Inilah Quraisy. Mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kurniakan kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini.” (Sirah Ibnu Hisyam: 3/164).

Sampai-sampai rida’ beliau terjatuh dari pundaknya karena begitu tingginya beliau mengangkat tangannya ke arah langit. Melihat keadaan demikian, Abu Bakar merasa tak sampai hati. Ia taruh kembali rida’ Nabi ﷺ di atas pundaknya dan mendekapkannya. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, munajatmu kepada Rabbmu telah mencukupi. Dia pasti memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu”. Nabi ﷺ pun keluar dari tendanya, kemudian membacakan firman Allah ﷻ,

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS:Al-Qamar | Ayat: 45).

Perang besar pertama ini pun dimenangkan oleh kaum muslimin. 70 orang-orang musyrik tewas di medan Badar. Di antara mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy. Seperti: Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah. Dari pihak kaum muslimin, 14 orang menemui syahidnya. 6 orang Muhajirin. Dan 8 orang Anshar. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H (ar-Rahiq al-Makhtum oleh al-Mubarakfury, Hal: 197-201).

Kemenangan ini benar-benar berdampak positif terhadap kaum muslimin. Ini merupakan ‘hadiah’ dari Allah ﷻ atas kesabaran orang-orang yang beriman. Orang-orang Arab pun segan terhadap negara Madinah. Sebagaimana juga orang-orang Quraisy tidak lagi meremehkan kaum muslimin dan terus-menerus menganggap mereka lemah.

Sumber:
islamstory.com

18 RAMADHAN, WAFATNYA KHALID BIN WALID

Nama Khalid bin al-Walid begitu masyhur di umat ini. Mendengar namanya, seseorang akan selalu terbayang akan kepahlawanan dan jihad di jalan Allah. Sosoknya sangat dirindukan. Dan figurnya selalu ingin ditiru dan diharapkan. Ia dijuluki saifullah, pedang Allah. Ayahnya adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya. Ibunya adalah Lubabah binti al-Harits, saudara dari Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits.

Khalid bin al-Walid memeluk Islam pada tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah tengah berjalan. Ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi ﷺ memuji Khalid dalam perang tersebut dengan sabdanya:

“أخذ الراية زيد فأصيب، ثم أخذها جعفر فأصيب، ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب، ثم أخذها سيفٌ من سيوف الله، ففتح الله على يديه”. ومن يومئذٍ سُمِّي “سيف الله”،.

“Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (saifullah –yakni Khalid bin Walid-) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.”

Khalid mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah pata. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (Diriwayatkan al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwatu Mu’tah min Ardhi Syam: 4017).

Sejak saat itu Khalid dikenal dengan sebutan saifullah.

Khalid juga turut serta dalam Perang Khaibar, Hunain, Fathu Mekah, dll.

Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya untuk menghancurkan berhala Uzza. Khalid pun meluluhlantakkan wibawa berhala itu di hadapan penyembahnya. Ia hancurkan Uzza. Setelah itu ia berkata, “Aku mengingkarimu. Kamu tidak Maha Suci. Sesungguhnya Allah telah menghinakanmu”. Kemudian Khalid bakar Tuhan jahiliyah itu (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Katsir: 3/597).

Abu Bakar juga menjadikan Khalid pemimpin pasukan dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Abu Bakar mengatakan, “Sebaik-baik hamba Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin al-Walid. Khalid bin al-Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah.” (as-Sirah al-Halabiyah oleh al-Halabi: 3/212).

Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu mencatatkan sejarah yang begitu luar biasa dalam menghadapi negara adidaya seperti Romawi di Syam dan Persia di Irak. Dan ia pula yang memerdekakan Damaskus.

Panglima perang yang sibuk dengan jihadnya ini meriwayatkan 8 hadits dari Nabi ﷺ.

Saat kematian hendak menjemputnya, ia berkata, “Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan daripada laa ilaaha illallaah, dan aku terus menjaga kalimat tersebut (tidak berbuat syirik).” (Khulashah Tadzhib Tahdzibul Kamal oleh Shafiyuddin al-Anshari, Hal: 103).

Pada tanggal 18 Ramadhan 21 H, Khalid bin al-Walid wafat. Umar bin al-Khattab sangat bersedih dengan kepergian Sang Pedang Allah. Ketika ada yang meminta Umar agar menenangkan wanita-wanita Quraisy yang menangis karena kepergian Khalid, Umar berkata, “Para wanita Quraisy tidak harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid).” (al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir: 7/132).

Setelah wafatnya, Khalid mendermakan senjata dan kuda tunggangannya untuk berjihad di jalan Allah (ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad: 7/397).

Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Sulaiman, mengampuni segala kesalahanmu, dan mempertemukan kita semua di surga Allah yang penuh kedamaian.

Sumber:
islamstory.com

AL-KHATIB AL-BAGHDADI

NAMA DAN NASABNYA

Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Muhdi yang masyhur dengan Al-Khatib Al-Baghdadi, si pemilik berbagai karya dan imam para hafizh.

KELAHIRAN AL-KHATIB AL-BAGHDADI

Beliau dilahirkan pada hari kamis, 25 Jumadil akhir 392H.

PERTUMBUHANNYA

Ayah beliau bernama Abul Hasan Khatib adalah penduduk Darzijan (sebuah desa di negri Irak) beliau adalah seorang yang ahli baca Al-Quran dengan bacaan Hafsh Al-Kattani.

Ayahnya mendorongnya untuk belajar hadits dan fikih. Oleh karenanya ia sudah belajar ketika umurnya menginjak sebelas tahun. Ia pergi menuntut ilmu di Bashrah pada saat umurnya menginjak dua puluh tahun, pergi ke Naisabur pada saat umurnya menginjak dua puluh tiga tahun dan saat pergi ke Syam pada saat umurnya sudah tua. Ia juga pergi ke kota Makkah dan kota selainnya yang telah disebutkan diatas.

Ia telah menulis banyak kitab, dalam hal ini ia telah melebihi teman-temannya. Ia menyusun dan mengarang, menetapkan yang shahih dan yang tidak shahih, menetapkan perowi yang adil dan yang tidak adil, dan menulis sejarah dan penjelasannya, sehingga ia menjadi Al-hafizh yang paling tinggi pada masanya.

SANJUNGAN ULAMA PADA MASANYA

Ibnu Makula mengatakan : “Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi adalah tokoh terakhir yang kami saksikan yang mempunyai pengetahuan, hafalan dan ketelitian terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ia sangat menguasai masalah ilat-ilat hadits (kesalah-kesalahan yang samar), sanad-sanadnya, shahih dan gharibnya (aneh) dan segala yang berkaitan dengannya. Diantara orang-orang Baghdad, setelah Abul Hasan Ad-Daruqutni, tidak ada seorangpun yang menyamainya. Aku tanya kepada Abu Abdillah Ash-Shuwari tentang Al-Khatib dan Abu nash As-Sajzi, manakah yang hafal hadits dari keduanya?, dengan tegas ia melebihkan Al-Khatib dari pada Abu Nashr”.

Al-Mu’taman as-Sajihi mengatakan: “Setelah Ad-Daruquthni, Baghdad tidak lagi memerlukan ulama yang hafal hadits melebih Abu Bakar Al-Khatib”.

Abu Ali Al-Bardani mengatakan: “Barangkali Al-Khatib sendiri tidak melihat seorangpun yang menyamainya”.

PERJALANANNYA DALAM MENUNTUT ILMU

Telah disebutkan perkataan Adz-Dzahabi bahwa Al-Khatib mulai belajar pada saat umurnya menginjak sebelas tahun. Ia pergi menuntut ilmu di Bashrah saat umurnya menginjak dua puluh tahun, pergi ke Naisabur saat umurnya menginjak dua puluh tiga tahun dan pergi ke Syam saat umurnya sudah tua. Ia juga pergi ke kota-kota selain yang telah disebutkan.

Adz-Dzahabi juga mengatakan: “Di Akbara, Al-khatib berguru kepada Al-Husain bin Muhammad Ash-Shaigh yang meriwayatkan hadits kepadanya dari Nafilah Ali bin Harb. Sementara di kota Bashrah ia berguru kepada Abu Umar Al-Hasyimi (guru dalam bidang Hadits), Ali al-Qasyim Asy-Syahid, Al-Hasan bin Ali As-Saburi dan sejumlah ulama lainnya”

Di Naisabur, ia berguru kepada Al-Qadhi Abu Bakar Al-Hiyari, Abu Said Ash-Shairafi, Abul Qasim Abdurrahman as-Siraj, Ali bin Muhammad Ath-Thirazi, Al-Hafizh Abu Hazim Al-Abdawi dan sejumlah ulama yang lainnya. di Asfahan ia berguru kepada Abul Hasan bin Abdi Kawih Abu Abdillah Al-Jamal, Muhammad bin Abdillah bin Syahriyar dan Al-Hafizh Abu Nu’aim, dan di beberapa tempat lainnya.

AKIDAH BELIAU

Adz-Dzahabi mengatakan: “Abdul Aziz bin Ahmad Al-Kattani berkata: “Pada tahun 412 H ia meriwayatkan hadits kepada gurunya yang bernama Abu Al-Qasim Ubaidullah Al-Azhari, gurunya yang lain yaitu Al-Baraqani juga menulis dan meriwayatkan hadits darinya. Dalam ilmu fikih, ia berguru kepada Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari dan Abu Nashr bin Ash-Shabbagh. Dalam bidang akidah ia mengikuti akidah Abul Hasan Al-Asy’ari”.

Adz-Dzahabi mengatakan: “Apa yang dikatakan oleh Ahmad Al-Kattani adalah benar, karena mengenai sifat-sifat Allah ta’ala al-Khatib sendiri telah menegaskan bahwa sifat-sifat tersebut telah kita pahami sebagaimana apa adanya tanpa menanyakan “bagaimana?” Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah madzhab Al-Asy’ari yang ia yakini sampai meninggalnya, sebagimana juga madzhab Imam Ahmad dan semua ulama hadits dan sunnah dalam berbagai masa”.

IBADAH DAN KEMULIAANNYA

Ghaits bin Ali mengatakan: “Abu Al-Faraj al-Isfarayani mengatakan kepadaku: “Al-Khatib pernah haji bersama kami, setiap hari dia menghatamkan Al-Qur an dengan bacaan tartil, setelah menghatamkannya orang-orang berkumpul padanya, sementara ia berada dalam kendaraan dan mereka berkata: “Riwayatkanlah hadits kepada kami”, lalu ia meriwayatkan hadits kepada mereka”.

Ibnu Nashir mengatakan: “Abu Zakariya At-Tabrizi al-Lughawi berkata: “Aku memasuki Damaskus lalu aku membaca kitab-kitab sastra arab di bawah bimbingan al-Khatib di dalam masjid, lalu naiklah Al-Khatib kepadaku , ia berkata: “Aku ingin mengunjungimu di rumahmu”.

Kami berbincang-bincang sesaat, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dan berkata: “Hadiah adalah sunnah”. Al-Khatib pergi dan aku mengamati pemberiannya itu ternyata itu adalah uang senilai lima dinar mesir. Pada waktu yang lain, ia kembali naik ke atas dan meletakan uang yang sama. Apabila ia membaca hadits di masjid jami’ Damaskus, maka suaranya terdengar sampai di akhir masjid. Dia membacanya dengan dialek arab yang benar.

WAFATNYA BELIAU

Makki Ar-Ramli mengatakan: “Al-Khatib sakit pada pertengahan bulan Ramadhan 463 H. Kondisi kesehatanya semakin parah pada awal bulan Dzulhijjah hingga beliau meninggal pada tanggal 7 Dzulhijjah”.

Sumber: Min A’lami Salaf, Syaikh Ahmad Farid, dari Al-Sofwah.or.id