Saturday, July 11, 2015

MENGENAL KOTA BUKHARA, KOTA KELAHIRAN IMAM BUKHARI (1/2)

Sejarah Perkembangan

Ada yang mengatakan, kota Bukhara dibangun oleh seorang pemimpin Iran yang bernama Siyâvaš. Putra Raja Kaykaus. Siyâvaš lari dari kerajaan karena sang ayah murka padanya. Kemudian ia menemui raja Kerajaan at-Turk, Afrasiab. Raja at-Turk ini memuliakannya dan menikahkannya dengan salah seorang putrinya. Kemudian memberinya sebuah wilayah kekuasaan. Wilayah itulah yang saat ini kita kenal dengan Bukhara.

Siyâvaš membangun Bukhara. Kemudian setelah Bukhara kuat, ia berbalik menyerang dan membunuh Afrasiab.

Bukhara adalah salah satu kota penting di wilayah Khurasan. An-Narsyakhi, penulis kitab Tarikh Bukhara, mengatakan, “Daerah Bukhara adalah wilayah padang belantara yang banyak dihuni hewan buas. Dilewati oleh Sungai Zeravshan. Gunung-gunungnya tinggi dengan puncak putih bersalju. Orang-orang datang ke daerah tersebut karena segar dan bersihnya udaranya. Para penduduknya dipimpin oleh seorang tetua”.

Sejak abad ke-5 M, orang-orang China menyebut wilayah ini dengan nama Nome (Arab: نومي). Ada yang mengatakan, nama Bukhara diambil dari kata Bakhr (Arab: بخر) dan padanan dalam Bahasa Sansekerta adalah Vihara, yakni tempat ibadah. Dikatakan bahwa Bukhara dahulu adalah sebuah wilayah peribadatan orang-orang Budha sebelum datangnya Islam.

Literatur-literatur berbahasa Arab menyebutkan bahwa penduduk asli Bukhara adalah Bakhãr Khudat (Arab: بخار خداة) atau Bukhãra Khudãh (Arab: بخارا خداه). Persitiwa-peristiwa penting di kota ini baru terjadi setelah masuk ke dalam wilayah Islam.

Masuknya Islam di Bukhara

Sebelum Islam datang, penduduk Bukhara adalah orang-orang paganis yang menyembah sebuah berhala yang bernama Makh. Mereka beribadah dan memberi persembahan kepada berhala tersebut setahun sekali. Periwayat sejarah sepakat bahwa orang Islam pertama yang melintasi pegunungan di Bukhara adalah Ubaidullah bin Ziyad. Ia merupakan gubernur Daulah Umayyah untuk wilayah Khurasan di masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Saat memimpin Khurasan, usia Ubaidullah bin Ziyad masih sangat belia. Baru 25 tahun. Penunjukkannya sebagai gubernur bukanlah sesuatu yang gegabah. Di usianya yang ke-24 tahun saja, Ubaidullah telah mampu mencapai Sungai Jeyhun. Dan saat itu Bukhara dipimpin oleh seorang janda yang mereka agungkan dengan panggilan Khatun (Arab: خاتون). Ini adalah sebutan dalam Bahasa Turk yang berarti sayyidah dalam Bahasa Arab.

Kemudian terjadi pertempuran antara Khatun berhadapan dengan kaum muslimin. Karena kalah, Khatun meminta perjanjian damai dan jaminan keamanan. Ubaidullah bin Ziyad mengabulkan permintaannya dan menerima 1juta dirham dari perjanjian damai tersebut. Kemudian Ubaidullah kembali ke Bashrah.

Setelah itu, Muawiyah mengangkat Said bin Utsman bin Affan sebagai wali daerah Khurasan. Ia memasuki wilayah Samarkand. Dan kemudian Khatun menolongnya menghadapi penduduk Bukhara (Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi: Dar ash-Shadr Cet.II. Hal. 354-355).

Pembebasan Bukhara oleh Qutaibah bin Muslim

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik al-Umawi adalah pemimpin Arab pertama yang melakukan pembangunan berkelanjutan di Bukhara. Berkat kebijakannya –setelah takdir Allah ﷻ- Islam di Bukhara kokoh dan tersebar. Hal itu juga berkat usaha gubernurnya di wilayah Irak, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, yang memerintahkan Qutaibah bin Muslim al-Bahili di Khurasan untuk membuka wilayah negeri seberang sungai.

Qutaibah berhasil membebaskan Bukhara pada tahun 90 H yang saat itu dikuasai Wardan Khudãh. Meskipun bersama sekutunya dari orang-orang Turk, Wardan tetap berhasil dikalahkan oleh Qutaibah. Kemudian Qutaibah berhasil menaklukkan penguasa-penguasa Bukhara lainnya.

Daerah seberang sungai termasuk daerah yang sulit dikuasai secara penuh. Awalnya, penduduknya memeluk Islam. Kemudian murtad dan melakukan pemberontakan. Qutaibah mengambil pelajaran dari apa yang terjadi sebelumnya. Setelah berhasil menaklukkan Bukhara, ia menempatkan orang-orang Arab agar tetap tinggal dan membaur dengan masyarakat di sana. Pendekatan yang dilakukan Qutaibah terbukti berhasil. Keislaman penduduk Bukhara baik dan Islam pun kokoh di sana. Keadaan pun menjadi stabil. Dengan stabilnya keadaan barulah pembangunan dapat berjalan.

Kota tua di Bukhara, menunjukkan begitu tingginya peradaban Bukhara di masa silam.
Kota tua di Bukhara, menunjukkan begitu tingginya peradaban Bukhara di masa silam.
Qutaibah membangun istana-istana. ia juga membangun Masjid Jami’ di dalam benteng Bukhara. Masjid tersebut menggeser tempat-berhala-berhala di sana. Semakin banyak masyarakat yang memeluk Islam, semakin banyak pula masjid dibangun. Hingga di masa Harun al-Rasyid masjid-masjid dibangun di daerah-daerah perbatasan.

Kota Bukhara pun kian berkembang. Aktivitas perdagangan dan industri kian menggeliat. Penduduknya kian makmur. Dan pendapatan daerahnya kian meningkat. Hingga tokoh-tokoh besar terlahir dari wilayah ini. Di antaranya Imam al-Bukhari yang lahir pada tanggal 13 Syawwal 194 H.

Bukhara di Masa Daulah Samaniyah

Awalnya, Bukhara berada di bawah pemerintahan Khurasan. Keadaan ini terus berlangsung hingga tahun 279 H/892 M. Saat Nashr bin Ahmad as-Samani memimpin Samarkand, Bukhara masuk ke dalam wilayah Samarkand. Adik Nashr yang bernama Ismail membangun Bukhara atas permintaan warga dan para ulamanya. Saat Nashr wafat, adiknyalah yang menggantikannya memerintah di negeri-negeri seberang sungai itu. Bukhara pun dijadikan ibu kota Daulah Samaniyah. Ia menjadi pusat pendidikan dan industri.

Sitorai Mokhi-Khossa, salah satu monumen terindah di Bukhara.
Sitorai Mokhi-Khossa, salah satu monumen terindah di Bukhara.
Ats-Tsa’alabi memuji perkembangan pesat Bukhara. Ia mengatakan, “Bukhara di masa Daulah Samaniyah adalah tempat yang terhormat dan tumpuan raja. Ia juga tempat tokoh-tokoh di zamannya. Tempat lahirnya bintang-bintang sastrawan dunia. Dan masa-masa yang penuh keutamaan…” (Yatimatu ad-Dahr fi Muhasin Ahli al-Ashr oleh Abu Manshur ats-Tsa’alabi: Tahqiq oleh Mufid Muhammad Qamhiyah: Cet.I Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut: 4/155).

Bukhara di Masa Pemerintahan Mongol

Setelah Daulah Samaniyah runtuh pada tahun 389 H/999 M, Bukhara kehilangan peranan pentingnya dalam politik. Namun di masa kemundurannya, ia tetap memegang peranan penting sebagai pusat kajian Islam. Kemudian pada tahun 604 H/1207 M, kota kelahiran Imam Bukhari ini diperintah oleh Alauddin Muhammad bin Taksy Khawarizm Syah. Ia memperbarui Bukhara dan membangun kembali kota tersebut.

Dalam kurun perjalanannya, Bukhara mengalami masa pasang dan surut. Masa suka dan duka. Sampai akhirnya musibah besar mendatangi dunia Islam. Pasukan Tatar masuk ke wilayah Islam termasuk wilayah Bukhara.

Pada tanggal 4 Dzul Hijjah 616 H, Bukhara jatuh ke tangan pasukan Jenghis Khan. Kota yang menjadi pusat ilmu negeri seberang sungai itu dijarah dan dibakar. Tidak tersisa kecuali Masjid Jami’ dan sebagian istana. Beruntungnya kerusakan parah itu bisa kembali pulih saat putra Jenghis Khan, Ogedei Khan, menggantikan ayahnya memerintah Mongol.

Pada tahun 636 H, penduduk Bukhara melakukan perlawanan terhadap Mongol. Akan tetapi perlawanan itu berhasil dipadamkan. Kemudian di tahun 671 H/1273 M, bencana kembali melanda Bukhara. Pasukan Mongol pimpinan Abaqa Khan –penguasa Mongol wilayah Persia- menguasai Bukhara. Mereka melakukan pengrusakan dan mengusir penduduknya. Kemudian dilakukan renovasi kembali. Namun anehnya, Mongol Persia kembali melakukan pengrusakan untuk kedua kalinya pada tahun 761 H/1359 M. Dan pada masa Dinasti Mongol Timuriyah, Bukhara tidak lagi memegang peranan penting di wilayah seberang sungai.

——-
Selanjutnya, insya Allah akan dibahas Bukhara di era modern. Negeri seberang sungai dengan peradaban tinggi itu kini menjadi bagian negeri-negeri berakhiran “Stan” bekas jajahan Uni Soviet. Mereka menjadi wilayah miskin yang peradabannya hanyalah tinggal kenangan.

Sumber:
– islamstory.com/ar/
– https://bukhariyon.wordpress.com/2009/11/29/history-of-bukhara/

FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH

FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH

Mengenal Fisik Ka’bah:
Bagian Luar

Bentuk Ka’bah kira-kira segi empat, dibangun dengan batu biru yang keras. Tingginya sampai 15 m. Panjang sisi tempat pancuran air mizab dan sisi depannya adalah 10,1 m. Panjang sisi tempat pintu Ka’bah dan belakangnya adalah 12 m. Pintu Ka’bah setinggi 2 m dari lantai, naik dengan menggunakan tangga seperti tangga mimbar. Saat ini, tangganya terbuat dari kayu berlapis perak yang dihadiahkan oleh salah seorang pengusaha India ke Ka’bah. Tangga tersebut tidak diletakkan di dekat Ka’bah kecuali jika pintu itu akan dibuka untuk kunjungan dalam momen-momen tertentu. Tidak lebih dari 15 kali setahun.
Mengenal Ka'bah
Mengenal Ka’bah
Di sudut sebelah kiri pintu Ka’bah, terdapat Hajar Aswad. Tingginya 1,5 m dari atas lantai thawaf. Orang Arab menyebut sudut (rukun) Ka’bah sesuai arah kemana rukun itu menghadap. Yang menghadap ke Utara dinamai rukun Irak. Yang menghadap ke Barat dinamai rukun Syam. Ke Selatan rukun Yamani. Dan yang ke Timur dinamai rukun Hajar Aswad karena Hajar Aswad berada di sudut tersebut.

Hajar Aswad adalah sebuah batu mengkilat berbentuk oval tidak beraturan. Warnanya hitam kemerah-merahan. Di batu itu terdapat warna merah dengan garis-garis kuning bekas penempelan potongan-potongan Hajar Aswad yang pecah. Diameternya kurang lebih 30 cm. dan dikelilingi dengan bingkai perak setebal 10 cm.

Pancuran yang muncul dari atas atap di bagian tengah dinding rukun utara dan rukun barat adalah mizab rahmah. Mizab ini dibuat oleh al-Hajjaj bin Yusuf dengan tujuan agar air tidak tergenang di atap Ka’bah. Pada tahun 959 H, Sultan Sulaiman al-Utsmani mengganti ujungnya dengan bahan perak. Kemudian pada tahun 1021 H, Sultan Ahmad al-Utsmani mengganti ujungnya dengan perak berukir yang ditulis dengan tinta biru berselang-seling emas. Pada tahun 1273 H, Sultan Abdul Majid al-Utsmani mengirim pancuran air yang seluruhnya terbuat dari emas. Mizab atau pancuran air itulah yang ada sampai sekarang ini.

Di depan mizab terdapat al-hatim. Yaitu bangunan melengkung setengah lingkaran yang kedua ujungnya berada di rukun utara dan barat dengan jarak 2,3 m. Tingginya 1 m dan tebalnya 1,5 m. Bagian ini dibeton dengan batu pualam berukir. Dan di sepanjang bagian atas terdapat tulisan yang dipahat. Jarak dari tengah dinding bagian dalam ke dinding Ka’bah 8,44 m. Ruang yang ada di antara keduanya disebut Hijir Ismail. Tiga meter dari ruang ini, pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam termasuk bangunan Ka’bah. Ada yang menyatakan bahwa Hajar dan Ismail dimakamkan di tempat ini.
Bagian Dalam
Gambar 1
Gambar 1
Gambar 1: Salah satu rukun atau sisi Ka’bah al-Musyarrfah. Tampak di bagian atas bagian kain kiswah dalam yang khusus untuk Ka’bah.
Gambar 2
Gambar 2
Gambar 2: Lemari di dalam Ka’bah. Posisi lemari ini tepat berada di depan pintu Ka’bah –jika dilihat dari bagian dalam. Di atasnya biasa diletakkan alat pewangi dari asap kayu gaharu yang khusus untuk mengharumi ruangan Ka’bah. Biasanya hal ini dilakukan setelah prosesi pencucian Ka’bah. Di dalam lemari ini juga tersimpan semacam kapur pewangi yang beraroma mawar untuk membaluri dinding Ka’bah agar tetap wangi. Hal itu juga dilakukan setelah dinding-dinding Ka’bah dicuci dengan air zam-zam yang dicampuri dengan air mawar.
Gambar 3
Gambar 3
Gambar 3: Ini adalah tempat shalat Rasulullah ﷺ ketika beliau memasuki Ka’bah yang mulia. Raja-raja, gubernur-gubernur Mekah al-Mukaramah, atau tamu kerajaan selalu shalat di tempat ini sebelum memulai prosesi pencucian Ka’bah yang mulia. Mungkin setelahnya bisa jadi orang-orang yang turut serta dalam prosesi pencucian Ka’bah atau masyarakat biasa ikut shalat pula di tempat ini. Kita memohon kepada Allah termasuk orang-orang yang mendapatkan keutamaan itu.
Gambar 4
Gambar 4
Gambar 4: Bagian kecil di dinging Ka’bah berupa batu tertentu. Posisinya menghadap tempat shalat Nabi ﷺ tadi. Pada batu tersebut tertulis kalimat “laa ilaaha illallaah, Muhammad rasulullah”.
Gambar 5
Gambar 5
Gambar 5: Sebuah pintu yang terdapat di dalam Ka’bah. Pintu ini bukanlah pintu utama Ka’bah. Pintu ini dinamakan pintu taubat. Di dalam pintu tersebut terdapat tangga menuju kea tap Ka’bah.
Gambar 6
Gambar 6
Gambar 6: Tiga buah tiang di dalam Ka’bah. Tiang ini terbuat dari kayu yang terbaik dan disepuh dengan emas murni. Bagian atasnya terlihat kain kiswah bagian dalam yang berwarna hijau. Tampak juga pada gambar ini lampu-lampu kecil, tempat pengasapan kayu gaharu, dan wadah-wadah. Benda-benda tersebut adalah hadiah pemberian dari para khalifah, para sultan, para amir, dan para raja sepanjang sejarah Islam untuk Ka’bah yang mulia.
Gambar 7
Gambar 7
Gambar 7: Terlihat 3 tiang lainnya yang berada di dalam Ka’bah. Tiga buah tiang yang terbuat dari kayu yang terbaik dan disepuh dengan emas murni. Tampak pada gambar pintu masuk Ka’bah atau dikenal dengan Pintu Ka’bah. Pada gambar ini juga terlihat lemari yang berada di depan Pintu Ka’bah dan di atasnya terdapat alat untuk pengasapan kayu gaharu. Yang digunakan untuk mengharumkan ruang dalam Ka’bah.
Demikian FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH ini semoga menjadi pengetahuan apa yang terdapat dalam FOTO-FOTO RUANG DALAM KA’BAH.
Sumber Gambar: Facebook Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul
Daftar Pustaka:
– al-Kharbuthli, Ali Husni. 2013. Sejarah Kabah. Jakarta: Turos.

MENGENAL KOTA BUKHARA, KOTA KELAHIRAN IMAM BUKHARI (2/2)

Bukhara Periode Uzbek

Pada tahun 905 H, Bukhara dikuasai oleh orang-orang Uzbek. Kemudian dipimpin oleh dua amir dari kabilah Syaiban al-Uzbek. Ubaidullah bin Mahmud dan Abdullah bin Iskandar. Pada masa kepemimpinan mereka berdua, Bukhara kembali kepada tradisinya. Menjadi pusat perkembangan politik dan budaya. Demikian juga di masa kepemimpinan dua kabilah berikutnya; al-Janiyah (Arab: الجانية) dan al-Ostrakhaniyah (Arab: الأستراخانية).

Negeri seberang sungai
Negeri seberang sungai
Pada abad ke-10 H atau abad 17-18 M, para pemimpin Uzbek menjalin hubungan dengan Kekaisaran Rusia. Orang-orang Rusia menyebut semua orang-orang Asia Tengah atau Turkmenistan Timur dengan orang Bukhara. Tentu ini mengindikasikan kemasyhuran Kota Bukhara di negara beruang merah itu.

Masa Khan Abdul Aziz (1055-1091 H/1645-1680 M) adalah akhir dari masa keemasan Bukhara. Periode berikutnya adalah masa kemunduran dan perpecahan. Mereka terpecah-pecah hingga banyak sekali para amir di Bukhara dengan wilayah kekuasaan yang kecil.

Masa Penjajahan Rusia

Pada tahun 1153 H/1740 M, Bukhara dikuasai oleh Nadir Syah, raja Kerajaan Syiah Shafawi. Kekuasaan Shafawi atas Bukhara tidak berlangsung lama. Wilayah itu merdeka dari Shafawi setelah Nadir Syah wafat dan munculnya keluarga al-Manikitiya (Arab: المانگيتية). Dengan Muhammad Rahim Khan sebagai Khan pada tahun 1170 H. Kemudian ia mengembalikan identitas Bukhara sebagai kota Islam dan syariat.

Pada masa al-Amir Muzhaffaruddin Syah (1277-1302 H/ 1885-1860 M) pengaruh Rusia kian mencengkram negeri-negeri seberang sungai. Hal itu memaksa al-Amir Muzhaffaruddin menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia. Pada akhir abad ke-19 M, Rusia mulai mendirikan bangungan dan fasilitas modern di dekat wilayah Bukhara. Bahkan mereka menamainya pinggiran Bukhara itu dengan nama Bukhara modern.

Kemudian pada tahun 1302-1328 H/1885-1910 H, Abdul Ahad Khan memerintah Bukhara. Di masanya, ekonomi Bukhara mengalami peninggakatan. Kota budaya ini bertransformasi menjadi kota industri. Produksi besi, emas, dan wol menarik para investor dan para tenga kerja. Berkah yang didapatkan Bukhara, tidak lupa disumbangkan oleh Abdul Ahad Khan untuk pembangunan tanah suci Mekah dan Madinah.

Di tengah dominasi Rusia di wilayah-wilayah tetangga, Abdul Ahad Khan berusaha keras mempertahankan Bukhara sebagai wilayah Islam. Ia menjadikan tanah bersejarah ini sebagai wilayah yang independen sejak 1887 hingga 1920 M. saat itu, Rusia bahkan Inggris telah memasuki wilayah Afghanistan.

Setelah Amir Abdul Ahad Khan, anaknya Amir Alim Khan menggantikannya pada tahun 1328 H/1910 M. Ia berkuasa di Bukhara hingga tahun 1340 H/1922 M. Setelah itu, Rusia berkuasa penuh atas Bukhara. Hingga kemudian Rusia membagi-bagi wilayah Asia Tengah berdasarkan sukunya masing-masing; Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan, Kirgistan. Inilah tabiat kolonialisme. Membuat sekat dan garis batas rumpun yang sama. Adapun Bukhara, kota legendaris ini menjadi salah satu kota penting di wilayah Uzbekistan.

Masa pemerintahan komunis Rusia termasuk periode buruk bagi perkembangan Islam di Bukhara. Komunis tidak segan melakukan pelanggaran bahkan kekerasan untuk memaksakan doktrinnya. Para muslimah Bukhara dipaksa melepas jilbab-jilbab mereka. Dua puluhan ribu masjid yang ada di Uzbek ditutup oleh Stalin. Bahkan sebagiannya dijadikan gudang. Hingga saat Uzbekistan merdeka, tak sampai seratus masjid yang tersisa.

Bukhara Era Modern

Uzbekistan merdeka dari kekuasaan Rusia pada tanggal 31 Agustus 1991. Sejak saat itu, bangsa Tajik ini mulai mengurangi pengaruh Rusia yang sudah larut di masyaratkat. Sedikit demi sedikit nilai-nilai islami dimunculkan. Namun karena sudah begitu lama, orang-orang Uzbek pun sudah lupa akan Islam.

Tashkent, salah satu kota di Uzbekistan. Kota dengan warisan tata kota yang baik, namun dibenci turis karena budaya sogok menyogok masyarakatnya
Tashkent, salah satu kota di Uzbekistan. Kota dengan warisan tata kota yang baik, namun dibenci turis karena budaya sogok menyogok masyarakatnya
Bercerita tentang Bukhara, Uzbekistan, atau bahkan Asia Tengah secara umum di era modern, tentu jauh berbeda dibanding masa lalunya. Seolah-olah ada loncatan budaya dan paradigma. Dulu.. Asia Tengah memiliki peradaban yang tinggi. Menjadi pusat politik. Tempat berkumpulnya para sastrawan dan ulama. Serta menjadi pusat kajian Islam. Dulu.. Bahasa Arab, Persia, dan Turki terdengar dimana-mana. Dulu.. puisi dan sastra yang tinggi lahir di sini. Kesusastraan menjadi kebanggaan. Membedakan mereka dari gembala nomad di padang rumput.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang ceritanya jauh berbeda. Sekarang bahasa Rusia adalah bahasa pemersatu. Tradisi Islam terputus oleh puluhan tahun pemerintahan komunis. Shalat, puasa, huruf-huruf Arab, azan, begitu jauh dari banyak penduduk yang mengaku muslim di sini. Di Kota Bukhara ini. Umumnya muslim Asia Tengah tidak pernah berpuasa. Mereka juga jarang terlihat shalat. Praktik Islam hanya dilakukan oleh kalangan tua atau beberapa orang saja dari mereka. Seabad lebih kekuasaan komunis di negeri ini, benar-benar membuat cahaya Islam hampir padam dan tenggelam. Orang-orang Uzbek akan begitu kagum keheranan ketika ada seseorang yang menyapa dengan ‘asslamualaikum’. Karena sapaan itu sudah lama berganti dengan kata ‘halo’.

Peninggalan Islam di Bukhara

Peninggalan Islam di Bukhara masih cukup banyak. Lebih dari 140 situs sejarah Islam ada di sana –itu setelah banyak dihancurkan oleh Mongol dan komunis Rusia-. Di antaranya adalah:

– Masjid dan Menara Kalon atau Kaylan

Menara Kalon atau Kaylan
Menara Kalon atau Kaylan
Masjid ini dibangun oleh Arslan Khan pada tahun 1121 M. Saat Jenghis Khan memasuki Bukhara, ia membakar masjid dan membiarkan menaranya tetap utuh. Dikisahkan lebih dari 30.000 orang dibantai di Bukhara. Kepala manusia hingga membentuk piramida. Namun di depan Menara Kalon, Jenghis Khan terpekur. Menara ini ia biarkan sebagai pertanda penghormatannya akan kehebatan bangunan tersebut. Pada masa berikutnya Masjid Kalon dibangun kembali. Sehingga tampak perbedaan umur antara Menara Kalon dan Masjid Kalon. Kalau menaranya berusia hampir 1000 tahun, maka masjidnya baru berusia kira-kira 500-an tahun.

– Kubah Samani: Kubah ini dibangun oleh Ismail as-Samani pada tahun 892 M.

– Gerbang selatan salah satu Masjid Bukhara yang dibangun di abad ke-6 H oleh orang-orang al-Qarakhani (Arab: القراخانيون).

– Masjid Namazkah (Arab: نمازكاه) dibangun pada abad ke-6 H.

– Masjid Biland (Arab: بلند) yang dibangun pada abad ke-16 M

Ulama dan Tokoh Bukhara

Kota pusat studi keislaman ini melahirkan banyak ulama dan tokoh besar dalam sejarah. Di antaranya adalah:

Dari kalangan ulama yang masyhur adalah Ishaq bin Rahawaih dan Imam al-Bukhari. Jika dimasukkan tokoh-tokoh sejarah secara umum, maka seorang ilmuan terkenal Abu Ali al-Husein bin Abdullah bin Sina. Atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Sina. Juga lahir dari peradaban Bukhara.

Di wilayah Uzbekistan lainnya, daerah Khawarizm, dikenal seorang ilmuan matematika yang bernama Abu Abdullah Muḥammad bin Musa al-Khwarizmi. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan Algoritmi.

Kata Mereka Tentang Bukhara

– Masa Lalu:

Yaqut al-Hamawi mengatakan, “Tidak ada wilayah di seberang sungai dan Khurasan, sebuah daerah yang penduduknya paling tinggi peradabannya dibanding wilayah Bukhara. Penduduknya banyak dan merata. Hal ini hanya dimiliki oleh Bukhara…”

Yaqut menukil perkataan penulis ash-Shur, “Adapun yang paling istimewa di negeri seberang sungai, aku tidak pernah melihat, tidak juga sampai berita kepadaku di masa Islam, sebuah wilayah yang paling bagus di Khurasan kecuali Bukhara. Jika engkau naik ke tempat yang tinggi lalu melihat ke sudut manapun, yang engkau lihat hanyalah peradaban yang tinggi…” (Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi, 1/353).

Pemandangan Bukhara dilihat dari tempat yang tinggi
Pemandangan Bukhara dilihat dari tempat yang tinggi
– Masa Kini:

Keadaan ekonomi Uzbekistan termasuk Bukhara benar-benar dalam keadaa terpuruk. Ekonomi tidak karuan. Jumlah pengangguran terus melonjak. Dan hidup semakin susah. Mata uangnya benar-benar tidak berharga. Sampai-sampai Murtie Djuffan, salah seorang konsuler KBRI, mengatakan, “(Di Uzbekistan) Orang Jawa bilang, wong mati kabotan duit1. Di sini, orang bisa mati sungguhan karena keberatan duit. Di Uzbek, mau belanja tiket pesawat untuk sekeluarga, bawa uang satu kardus gede –karena mata uangnya tidak berharga-, terus jatuh, menimpa badan… mati.”

Agustinus Wibowo, seorang traveler di wilayah-wilayah Asia Tengah, mengatakan, “Hampir serratus tahun berada di bawah rezim komunis dan sekuler, karakter Islam di Uzbekistan banyak berubah. Madrasah menjadi museum atau toko. Masjid menjadi tempat wisata. Pasangan muda-mudi asyik bergandengan dan berpelukan menikmati arsitektur Islam… …kini gadis-gadis Tajik dan Uzbek berpakaian trendi ala Barat, mengenakan rok mini, hak tinggi dan stoking tembus pandang, bergandeng tangan dan menari dengan lelaki idaman hati. Tak jauh dari Masjid Bukhara juga dibangun diskotik bawah tanah, dimiliki oleh anggota keluarga presiden Islam Karimov –nama yang juga mengandung kata Islam-.”

Sebenarnya Bukhara atau Uzbekistan bukanlah sebuah wilayah yang serba kekurangan apabila dilihat dari sumber daya alamnya. Mereka memiliki hasil bumi seperti emas dan besi. Namun keberkahan itu hilang dengan sedikitnya syukur. Allah ﷻ timpakan musibah dengan penguasa-penguasa yang buruk karena dosa-dosa yang mereka perbuat. Kemudian keadaan mereka semakin buruk dengan tersebarnya akhlak-akhlak yang rendah.

Pelajaran

Masuknya Islam ke suatu daerah berdampak besar terhadap kemajuan wilayah tersebut.
Ketika Islam yang murni diterapkan, maka ia akan membawa keberkahan kepada penduduk dan daerahnya.
Komunisme sangat buruk pengaruhnya terhadap Islam dan kaum muslimin bahkan lebih buruk dari demokrasi liberal.
Umat Islam wajib bersyukur dengan nikmat Islam; mengimaninya dengan hati, mendakwahkannya, dan menerapkannya dalam amalan. Ketika mereka kufur, maka Allah ganti kemuliaan mereka dengan kehinaan dan keterpurukan.
Umat Islam hendaknya mengambil pelajaran dari sejarah mereka. Berpegang teguh dengan Islam bukanlah kemunduran. Justru jauh dari Islam-lah yang akan mendatangkan kemunduran.
Ket:
1. Ungkapan ini biasa digunakan untuk menggambarkan orang yang sangat kaya namun pelit, akhirnya ia mati tertimpa atau terkubur uang sendiri.

Sumber:
– Wibowo, Agustinus. 2012. Garis Batas; Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah. Jakarta: Gramedia.
– bukhariyon.wordpress.com
– islamstroy.com/ar

KISAH DUBAI DAN KEBENARAN SABDA NABI ﷺ

Kehidupan ini adalah nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan situasi kehidupan akhir zaman,

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”

Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.

Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran sabda Nabi.

Sabda Nabi ﷺ

Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia. Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat. Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).

Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُـولَ اللهِ، وَمَنْ أَصْحَابُ الشَّاءِ وَالْحُفَاةُ الْجِيَـاعُ الْعَالَةُ قَالَ: اَلْعَرَبُ.

“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).

Emirat Dubai

Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun 1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab. Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah ke-emiran yang paling populer.

Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia. Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba (Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.

Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA.

Dubai Sebelum Metropolis

Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.

Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum, keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi rumah rakyat biasa.

Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan ada hotel berbintang tujuh di sana.

Simaklah gambar dan video berikut untuk mengetahui kondisi Dubai sebelum menjadi kota metropolis:

Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970
Sebuah pasar di pusat Kota Dubai pada tahun 1970
Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an - 1970an.
Caravan onta di Dubai. Berlangsung antara tahun 1960an – 1970an.
Dubai pada tahun 1960an-1970an
Dubai pada tahun 1960an-1970an

17 RAMADHAN: PERANG BADAR

Setelah umat Islam mengalami intimidasi, kesulitan, dan duka meninggalkan kampung halaman mereka di Mekah. Meninggalkan harta dan keluarga di sana. Rasulullah ﷺ mengadakan rencana penyergapan kafilah Quraisy. Hal itu merupakan respon dari permusuhan yang mereka lakukan selama ini. Para sahabat Muhajirin dan Anshar pun berkumpul dan bersiaga melakukan penyergapan.

Namun rencana dan persiapan matang bukanlah sesuatu yang pasti terjadi. Manusia sekelas Rasulullah ﷺ pun hanya mampu berencana, namun Allah ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Penyergapan gagal. Kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb berhasil melarikan diri. Malah Quraisy berbalik melakukan persiapan matang untuk berperang. Mereka hendak memberi pelajaran kelompok kecil kaum muslimin agar orang-orang se-Jazirah Arab jangan pernah meremehkan Quraisy. Begitu kata Abu Jahal.

Nabi ﷺ bersama para sahabatnya keluar dari Madinah pada tanggal 12 Ramadhan tahun 2 H. Beliau ﷺ tidak mewajibkan setiap kaum muslimin untuk ambil bagian menuju Badar. Karena keberangkatan ini hanya bertujuan menyergap kafilah Quraisy bukan untuk berperang. Hanya untuk menghadang kafilah yang membawa 1000 onta, 50.000 dinar emas, dan hanya dijaga oleh 40 orang. Tentu saja hal ini sebagai balasan dari perbuatan Quraisy yang telah merampas harta mereka selama di Mekah. Namun sayang, rencana ini berhasil diketahui Abu Sufyan. Ia pun mengubah rute kafilahnya.

Mengetahui pergerakan umat Islam dari Madinah, Quraisy segera menyiapkan pasukan besar untuk berperang. Mereka membawa 1300 pasukan. 600 di antaranya pasukan berbaju besi. Dan 100 di antaranya penunggang kuda. Mereka juga membawa onta dalam jumlah yang besar. Sementara kaum muslimin hanya berjumlah 314 orang. Ada yang mengatakan 319 orang. 83 di antaranya adalah kaum Muhajirin.

Nabi ﷺ duduk khusyuk bermunajat kepada Rabbnya. Memohon pertolongan kepada Maha Penolong. Beliau ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim no 1763).

Dalam riwayat lain

للّهُمّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ أَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا ، تُحَادّك وَتُكَذّبُ رَسُولَك ، اللّهُمّ فَنَصْرَك الّذِي وَعَدْتنِي ، اللّهُالْغَدَاةَ مّ أَحِنْهُمْ

“Ya Allah, Inilah Quraisy. Mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kurniakan kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini.” (Sirah Ibnu Hisyam: 3/164).

Sampai-sampai rida’ beliau terjatuh dari pundaknya karena begitu tingginya beliau mengangkat tangannya ke arah langit. Melihat keadaan demikian, Abu Bakar merasa tak sampai hati. Ia taruh kembali rida’ Nabi ﷺ di atas pundaknya dan mendekapkannya. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Nabi Allah, munajatmu kepada Rabbmu telah mencukupi. Dia pasti memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu”. Nabi ﷺ pun keluar dari tendanya, kemudian membacakan firman Allah ﷻ,

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS:Al-Qamar | Ayat: 45).

Perang besar pertama ini pun dimenangkan oleh kaum muslimin. 70 orang-orang musyrik tewas di medan Badar. Di antara mereka adalah tokoh-tokoh Quraisy. Seperti: Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah. Dari pihak kaum muslimin, 14 orang menemui syahidnya. 6 orang Muhajirin. Dan 8 orang Anshar. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H (ar-Rahiq al-Makhtum oleh al-Mubarakfury, Hal: 197-201).

Kemenangan ini benar-benar berdampak positif terhadap kaum muslimin. Ini merupakan ‘hadiah’ dari Allah ﷻ atas kesabaran orang-orang yang beriman. Orang-orang Arab pun segan terhadap negara Madinah. Sebagaimana juga orang-orang Quraisy tidak lagi meremehkan kaum muslimin dan terus-menerus menganggap mereka lemah.

Sumber:
islamstory.com

18 RAMADHAN, WAFATNYA KHALID BIN WALID

Nama Khalid bin al-Walid begitu masyhur di umat ini. Mendengar namanya, seseorang akan selalu terbayang akan kepahlawanan dan jihad di jalan Allah. Sosoknya sangat dirindukan. Dan figurnya selalu ingin ditiru dan diharapkan. Ia dijuluki saifullah, pedang Allah. Ayahnya adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya. Ibunya adalah Lubabah binti al-Harits, saudara dari Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits.

Khalid bin al-Walid memeluk Islam pada tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah tengah berjalan. Ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi ﷺ memuji Khalid dalam perang tersebut dengan sabdanya:

“أخذ الراية زيد فأصيب، ثم أخذها جعفر فأصيب، ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب، ثم أخذها سيفٌ من سيوف الله، ففتح الله على يديه”. ومن يومئذٍ سُمِّي “سيف الله”،.

“Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (saifullah –yakni Khalid bin Walid-) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.”

Khalid mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah pata. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (Diriwayatkan al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwatu Mu’tah min Ardhi Syam: 4017).

Sejak saat itu Khalid dikenal dengan sebutan saifullah.

Khalid juga turut serta dalam Perang Khaibar, Hunain, Fathu Mekah, dll.

Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya untuk menghancurkan berhala Uzza. Khalid pun meluluhlantakkan wibawa berhala itu di hadapan penyembahnya. Ia hancurkan Uzza. Setelah itu ia berkata, “Aku mengingkarimu. Kamu tidak Maha Suci. Sesungguhnya Allah telah menghinakanmu”. Kemudian Khalid bakar Tuhan jahiliyah itu (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Katsir: 3/597).

Abu Bakar juga menjadikan Khalid pemimpin pasukan dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Abu Bakar mengatakan, “Sebaik-baik hamba Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin al-Walid. Khalid bin al-Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah.” (as-Sirah al-Halabiyah oleh al-Halabi: 3/212).

Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu mencatatkan sejarah yang begitu luar biasa dalam menghadapi negara adidaya seperti Romawi di Syam dan Persia di Irak. Dan ia pula yang memerdekakan Damaskus.

Panglima perang yang sibuk dengan jihadnya ini meriwayatkan 8 hadits dari Nabi ﷺ.

Saat kematian hendak menjemputnya, ia berkata, “Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan daripada laa ilaaha illallaah, dan aku terus menjaga kalimat tersebut (tidak berbuat syirik).” (Khulashah Tadzhib Tahdzibul Kamal oleh Shafiyuddin al-Anshari, Hal: 103).

Pada tanggal 18 Ramadhan 21 H, Khalid bin al-Walid wafat. Umar bin al-Khattab sangat bersedih dengan kepergian Sang Pedang Allah. Ketika ada yang meminta Umar agar menenangkan wanita-wanita Quraisy yang menangis karena kepergian Khalid, Umar berkata, “Para wanita Quraisy tidak harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid).” (al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir: 7/132).

Setelah wafatnya, Khalid mendermakan senjata dan kuda tunggangannya untuk berjihad di jalan Allah (ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Saad: 7/397).

Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Sulaiman, mengampuni segala kesalahanmu, dan mempertemukan kita semua di surga Allah yang penuh kedamaian.

Sumber:
islamstory.com

AL-KHATIB AL-BAGHDADI

NAMA DAN NASABNYA

Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Muhdi yang masyhur dengan Al-Khatib Al-Baghdadi, si pemilik berbagai karya dan imam para hafizh.

KELAHIRAN AL-KHATIB AL-BAGHDADI

Beliau dilahirkan pada hari kamis, 25 Jumadil akhir 392H.

PERTUMBUHANNYA

Ayah beliau bernama Abul Hasan Khatib adalah penduduk Darzijan (sebuah desa di negri Irak) beliau adalah seorang yang ahli baca Al-Quran dengan bacaan Hafsh Al-Kattani.

Ayahnya mendorongnya untuk belajar hadits dan fikih. Oleh karenanya ia sudah belajar ketika umurnya menginjak sebelas tahun. Ia pergi menuntut ilmu di Bashrah pada saat umurnya menginjak dua puluh tahun, pergi ke Naisabur pada saat umurnya menginjak dua puluh tiga tahun dan saat pergi ke Syam pada saat umurnya sudah tua. Ia juga pergi ke kota Makkah dan kota selainnya yang telah disebutkan diatas.

Ia telah menulis banyak kitab, dalam hal ini ia telah melebihi teman-temannya. Ia menyusun dan mengarang, menetapkan yang shahih dan yang tidak shahih, menetapkan perowi yang adil dan yang tidak adil, dan menulis sejarah dan penjelasannya, sehingga ia menjadi Al-hafizh yang paling tinggi pada masanya.

SANJUNGAN ULAMA PADA MASANYA

Ibnu Makula mengatakan : “Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi adalah tokoh terakhir yang kami saksikan yang mempunyai pengetahuan, hafalan dan ketelitian terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ia sangat menguasai masalah ilat-ilat hadits (kesalah-kesalahan yang samar), sanad-sanadnya, shahih dan gharibnya (aneh) dan segala yang berkaitan dengannya. Diantara orang-orang Baghdad, setelah Abul Hasan Ad-Daruqutni, tidak ada seorangpun yang menyamainya. Aku tanya kepada Abu Abdillah Ash-Shuwari tentang Al-Khatib dan Abu nash As-Sajzi, manakah yang hafal hadits dari keduanya?, dengan tegas ia melebihkan Al-Khatib dari pada Abu Nashr”.

Al-Mu’taman as-Sajihi mengatakan: “Setelah Ad-Daruquthni, Baghdad tidak lagi memerlukan ulama yang hafal hadits melebih Abu Bakar Al-Khatib”.

Abu Ali Al-Bardani mengatakan: “Barangkali Al-Khatib sendiri tidak melihat seorangpun yang menyamainya”.

PERJALANANNYA DALAM MENUNTUT ILMU

Telah disebutkan perkataan Adz-Dzahabi bahwa Al-Khatib mulai belajar pada saat umurnya menginjak sebelas tahun. Ia pergi menuntut ilmu di Bashrah saat umurnya menginjak dua puluh tahun, pergi ke Naisabur saat umurnya menginjak dua puluh tiga tahun dan pergi ke Syam saat umurnya sudah tua. Ia juga pergi ke kota-kota selain yang telah disebutkan.

Adz-Dzahabi juga mengatakan: “Di Akbara, Al-khatib berguru kepada Al-Husain bin Muhammad Ash-Shaigh yang meriwayatkan hadits kepadanya dari Nafilah Ali bin Harb. Sementara di kota Bashrah ia berguru kepada Abu Umar Al-Hasyimi (guru dalam bidang Hadits), Ali al-Qasyim Asy-Syahid, Al-Hasan bin Ali As-Saburi dan sejumlah ulama lainnya”

Di Naisabur, ia berguru kepada Al-Qadhi Abu Bakar Al-Hiyari, Abu Said Ash-Shairafi, Abul Qasim Abdurrahman as-Siraj, Ali bin Muhammad Ath-Thirazi, Al-Hafizh Abu Hazim Al-Abdawi dan sejumlah ulama yang lainnya. di Asfahan ia berguru kepada Abul Hasan bin Abdi Kawih Abu Abdillah Al-Jamal, Muhammad bin Abdillah bin Syahriyar dan Al-Hafizh Abu Nu’aim, dan di beberapa tempat lainnya.

AKIDAH BELIAU

Adz-Dzahabi mengatakan: “Abdul Aziz bin Ahmad Al-Kattani berkata: “Pada tahun 412 H ia meriwayatkan hadits kepada gurunya yang bernama Abu Al-Qasim Ubaidullah Al-Azhari, gurunya yang lain yaitu Al-Baraqani juga menulis dan meriwayatkan hadits darinya. Dalam ilmu fikih, ia berguru kepada Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari dan Abu Nashr bin Ash-Shabbagh. Dalam bidang akidah ia mengikuti akidah Abul Hasan Al-Asy’ari”.

Adz-Dzahabi mengatakan: “Apa yang dikatakan oleh Ahmad Al-Kattani adalah benar, karena mengenai sifat-sifat Allah ta’ala al-Khatib sendiri telah menegaskan bahwa sifat-sifat tersebut telah kita pahami sebagaimana apa adanya tanpa menanyakan “bagaimana?” Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah madzhab Al-Asy’ari yang ia yakini sampai meninggalnya, sebagimana juga madzhab Imam Ahmad dan semua ulama hadits dan sunnah dalam berbagai masa”.

IBADAH DAN KEMULIAANNYA

Ghaits bin Ali mengatakan: “Abu Al-Faraj al-Isfarayani mengatakan kepadaku: “Al-Khatib pernah haji bersama kami, setiap hari dia menghatamkan Al-Qur an dengan bacaan tartil, setelah menghatamkannya orang-orang berkumpul padanya, sementara ia berada dalam kendaraan dan mereka berkata: “Riwayatkanlah hadits kepada kami”, lalu ia meriwayatkan hadits kepada mereka”.

Ibnu Nashir mengatakan: “Abu Zakariya At-Tabrizi al-Lughawi berkata: “Aku memasuki Damaskus lalu aku membaca kitab-kitab sastra arab di bawah bimbingan al-Khatib di dalam masjid, lalu naiklah Al-Khatib kepadaku , ia berkata: “Aku ingin mengunjungimu di rumahmu”.

Kami berbincang-bincang sesaat, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dan berkata: “Hadiah adalah sunnah”. Al-Khatib pergi dan aku mengamati pemberiannya itu ternyata itu adalah uang senilai lima dinar mesir. Pada waktu yang lain, ia kembali naik ke atas dan meletakan uang yang sama. Apabila ia membaca hadits di masjid jami’ Damaskus, maka suaranya terdengar sampai di akhir masjid. Dia membacanya dengan dialek arab yang benar.

WAFATNYA BELIAU

Makki Ar-Ramli mengatakan: “Al-Khatib sakit pada pertengahan bulan Ramadhan 463 H. Kondisi kesehatanya semakin parah pada awal bulan Dzulhijjah hingga beliau meninggal pada tanggal 7 Dzulhijjah”.

Sumber: Min A’lami Salaf, Syaikh Ahmad Farid, dari Al-Sofwah.or.id

SYAIKH IHSAN ILAHI ZHAHIR ULAMA PEMBELA SUNNAH

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir adalah seorang ulama yang layak digelari singa pembela sunnah dan ia juga merupakan salah satu tokoh yang paling dimusuhi oleh aliran-aliran sesat. Syaikh Ihsan merupakan seorang ahli hadits terpercaya dan ahli fikih yang dalam pemahamannya. Hidupnya diisi dengan khidmat menjaga syariat dari kelompok-kelompok yang menyimpang dan akhir kehidupannya adalah ibadah, menyampaikan ilmu di hadapan umat.

Masa Kecil

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dilahirkan di Kota Siyalkut Provinsi Punjab, Pakistan pada tahun 1943. Ia tumbuh besar di keluarga sunni yang taat, yang terkenal memiliki perhatian dengan ilmu hadits. Kecerdasannya sudah tampak di usia yang sangat dini, terbukti dengan menghafalkan Alquran secara sempurna saat berusia 9 tahun. Pendidikan sekolah dasarnya tidak ia tempuh di sekolah agama (baca: pesantren), akan tetapi ia menempuh pendidikan di sekolah negeri.

Sejak kecil, beliau rajin menuntut ilmu agama di masjid-masjid. Kemudian belajar hadis di bawah bimbingan Syaikh Muhammad Jundulawi dan Athallah Hanif di Kota Faisalabad.

Perjalanan Menuntu Ilmu

Pada tahun 1961 Ihsan Ilahi Zhahir mendapatkan gelar Licence-nya (Lc) dari  Universitas Islam Madinah jurusan syariah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madinah, ia kembali ke negerinya Pakistan dan kembali belajar di Universitas Punjab mengambil jurusan Hukum dan Ilmu Politik. Dengan demikian beliau mendapatkan dua gelar Lc dengan jurusan yang berbeda.

Syaikh Ihsan terus menyibukkan dirinya dengan belajar di Universitas Punjab dan universitas-universitas lainnya dengan berbagai spesialisasi ilmu, di antaranya ilmu-ilmu syariat, politik, bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Ketekunannya dalam mengkaji ilmu di berbagai bidang membuatnya berhasil memperoleh sembilan gelar magister, luar biasa!.

Kesungguhannya dalam belajar begitu berkesan bagi Dr. Muhammad Luqman as-Salafi sehingga ia mengatakan, “Aku benar-benar mengenal mujahid ini (Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir). Ia telah menjual dirinya di jalan Allah lebih dari selama 25 tahun sejak dekat denganku di Universitas Islam Madinah. Selama empat tahun kebersamaan kami di Madinah, aku mengenalnya sebagai seorang yang cerdas melebihi pelajar-pelajar lainnya dalam belajar, membahas, dan diskusi. Dia telah menghafal ribuan hadits Nabi.

Saat keluar kelas, ia selalu membuntuti Syaikh al-Albani. Duduk bersamanya di pelataran kampus, lalu bertanya tentang permasalahan hadits, kaidah-kaidahnya, perawi-perawinya, dan berdiskusi bersama Syaikh al-Albani (tentang masalah-masalah lainnya pen.). Syaikh al-Albani pun sangat gembira mendengar dan menjawab pertanyaan darinya…”

Kesungguhannya Dalam Menjaga Syariat

Ketika menempuh studi di ilmu hukum, Syaikh Ihsan Ilahi Zahir juga menjadi imam dan khotib Masjid Ahlul Hadits di Lahore, pimpinan komunitas akademisi Islam, dan pimpinan redaksi Majalah Turjuman al-Hadits yang menginduk pada Universitas Ahlu al-Hadits di Lahore.

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir memiliki perhatian yang besar dalam memerangi pemikiran-pemikiran menyimpang (baca: aliran sesat) yang banyak tersebar di negaranya, Pakistan. Karya-karya ilmiahnya dalam membantah pemikiran Syiah Itsna ‘Asyriyah, al-Qadiyaniyah (Ahmadiyah), dan Shufiyah menjadi rujukan yang berharga bagi umat Islam, khususnya dalam membantah pemikiran Syiah, buku-bukunya dikategorikan buku terbaik yang membahas pemikiran Syiah. Bantahannya yang ilmiah dan mendalam terhadap aliran-aliran sesat tersebut membuat para tokoh-tokoh kesesatan cukup kelimpungan dan tidak mampu membalasnya dengan argumentasi ilmiah serupa. Mereka hanya mampu melakukan ancaman dan tekanan terhadap Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, agar ia berhenti membicarakan kesesatan mereka.

Tidak hanya melalui buku dan karya tulis ilmiah, Syaikh Ihsan terus menyeru umat agar waspada terhadap pemikiran-pemikiran yang menyimpang tersebut melalui seminar-seminar, mimbar, dan pertemuan-pertemuan, di Pakistan, Kuwait, Irak, Arab Saudi, hingga Amerika. Semua itu beliau lakukan demi menjaga kemurnian syariat Islam.

Percobaan Pembunuhan

Jihad ilmiah yang dilakukan oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir tentu saja memicu kemarahan para pengekor hawa nafsu yang menyelisihi kebenaran sehingga menjadikan dirinya berada dalam ancaman bahaya. Khomeini, tokoh revolusi Iran, mengadakan sayembara untuk kepala Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Khomeini mengatakan, “Siapa yang bisa membawa kepala Ihsan, bagi dia ganjaran $2000.” 2000 dolar tentu saja bukan jumlah yang sedikit, apalagi di tahun 1988, angka senilai itu cukup menggiurkan. Beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap dirinya terjadi, Syaikh diberondong dengan peluru, namun ia masih selamat.

Wafatnya Sang Mujahid

Kehidupan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, kian hari kian terancam. Orang-orang ekstrimis Syiah kian geram dengan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang ia serukan, namun mereka tidak mampu membantahnya dengan pena-pena dan lisan-lisan mereka. Mengakhiri hidup Syaikh Ihsan adalah satu-satunya jalan bagi para pengikut hawa nafsu ini. Akhirnya kematian menjemputnya ketika beliau sedang berjihad menyebarkan ilmu dan membela sunnah.

Sehari sebelum wafatnya, Syaikh Ihsan duduk dalam acara debat yang berlangsung selama 6.30 jam dengan pihak-pihak yang meminta penetapkan Fiqih Hanafi Ja’fari (Madzhab Syiah) dengan fiqih-fikih yang lain. Ia menjawab, “Kami tidak menginginkan sebuah pengganti bagi Alquran dan sunah.” Nampak dalam perdebatan ini, bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir sangat kuat pendiriannya dalam membela kebenaran. Hingga, kemudian pada hari kedua, para hakim memutuskan hasil sidang bahwa kebenaran berada di pihak Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Pada tanggal 23 Rajab 1407 H, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menghadiri sebuah seminar di Univeristas Ahlul Hadits. Peserta yang hadir sangat banyak, sekitar 2000 orang. Saat malam mulai larut, hampir menunjukkan pukul 11 malam, giliran Syaikh berbicara di hadapan khalayak. Kurang lebih 20 menit menyampaikan ceramahnya, sebuah pot yang terletak di depan podiumnya meledak. Jasad Syaikh Ihsan terpelanting 20 atau 30 m dari tempat berdirinya. Di masa-masa akhir hayatnya ia mengatakan, “Tinggalkan aku, pergilah perhatikan bagaimana keadaan yang lain.” Lalu ada seseorang yang menangis karena melihat Syaikh dalam keadaan sekarat, Syaikh menasihatinya, “Kalau engkau menangis, bagaiman engkau bisa menguatkan orang lain (atas kejadian ini).” Syaikh Ihsan segera dilarikan ke rumah sakit Lahore.

Kabar ini terdengar oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Pemerintah Arab Saudi segera mengambil tindakan cepat terhadap ulama pemberani ini, ia dirujuk ke rumah sakit militer di Riyadh agar ditangan dengan intesif. Namun sayang upaya itu tidak berhasil, pagi hari di awal bulan Sya’ban 1407 H, ruh Syaikh Ihsan terpisah dari jasadnya, ia pergi menghadap Rabnya Yang Maha Mulia.

Kehidupan Syaikh Ihsan telah ia isi dengan ilmu, amal, dakwah, dan jihad membela kemurnian syariat. Jasadnya diterbangkan ke Kota Madinah, kota yang memberikan banyak kesan dan kenangan untuknya, lalu ia dishalatkan di Masjid Nabawi dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Sebuah kematian yang indah setelah mengisi usia dengan perjuangan dan pengorbanan demi Islam di berbagai negara. Imam Ibnu Katsir mengatakan

أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya barangsiapa menyibukkan diri/hidup dalam suatu hal, ia akan diwafatkan dalam melakukan hal tersebut.” (Shahih Tafsir Ibnu Kastir, 1: 347)

Di antara karya-karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah: Sejarah Hitam Tasawuf, Darah Hitam Tasawuf, Virus Syiah: Sejarah Alienisme Sekte, Mengapa Ahmadiyah Dilarang, dll.

Sumber:
– Ihsan Ilahi Zhahir wa Juhuduhu fi Taqriri al-Aqidah wa al-Rad ala al-Firaq al-Mukholafah
– Ihsan Ilahi Zhahir
– Islamstory.com

BIOGRAFI IBNUL QAYYIM AL-JAUZIYAH

NASAB DAN KELAHIRAN IBNUL QAYYIM AL-JAUZIYAH RAHIMAHULLAH

Beliau adalah Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Yang lebih terkenal dengan panggilan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Perjalanan beliau dalam Menuntut Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah tumbuh berkembang di keluar yang dilingkupi dengan ilmu, keluarga yang religius dan memiliki banyak keutamaan. Ayahanda, Abu Bakar bin Ayyub az-Zura’i beliau adalah pengasuh di al-Madrasah al-Jauziyah. Disinilah al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah belajar dalam asuhan dan bimbingan ayahanda beliau dan dalam arahannya yang ilmiyah dan selamat.

Dalam usia yang relatif beliau, sekitar usia tujuh tahun, Imam Ibnul Qayyim telah memulai penyimakan hadits dan ilmu-ilmu lainnya di majlis-majlis para syaikh/guru beliau. Pada jenjang usia ini beliau rahimahullah telah menyimak beberapa juz berkaitan dengan Ta’bir ar-Ruyaa (Tafsir mimpi) dari syaikh beliau Syihabuddin al-‘Abir. Dan juga beliau telah mematangkan ilmu Nahwu dan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya pada syaikh beliau Abu al-Fath al-Ba’labakki, semisal Alfiyah Ibnu Malik dan selainnya.

Beliau juga telah melakukan perjalan ke Makkah dan Madinah selama musim haji. Dan beliau berdiam di Makkah. Juga beliau mengadakan perjalanan menuju Mesir sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam kitab beliau Hidayah al-Hiyaraa dan pada kitab Ighatsah al-Lahafaan.

Ibnu Rajab mengatakan, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.” Dan disaat di Makkah inilah beliau menulis kitab beliau Miftaah Daar as-Sa’adah wa Mansyuur Wilayaah Ahlil-Ilmi wal-Iradah.

Keluasan Ilmu Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Dan Pujian Ulama terhadap beliau

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah sangat menonjol dalam ragam ilmu-ilmu islam. Dalam setiap disiplin ilmu beliau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar.

Murid beliau, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, mengatakan, “Beliau menyadur fiqh dalam mazhab Imam Ahmad, dan beliau menjadi seorang yang menonjol dalam mazhab dan sebagai seorang ahli fatwa. Beliau menyertai Syaikhul Islam Taqiyuddin dan menimba ilmu darinya. Beliau telah menunjukkan kemahiran beliau dalama banyak ilmu-ilmu Islam. Beliau seorang yang mengerti perihal ilmu Tafsir yang tidak ada bandingannya. Dalam ilmu Ushul Fiqh, beliau telah mencapai puncaknya. Demikian pula dalam ilmu hadits dan kandungannya serta fiqh hadits, segala detail inferensi dalil, tidak ada yang menyamai beliau dlam hal itu. Sementara dalam bidang ilmu Fiqh dan ushul Fiqh serta bahasa Arab, beliau memiliki jangkauan pengetahuan yang luas. Beliau juga mempelajari ilmu Kalam dan Nahwu serta ilmu-ilmu lainnya. Beliau seorang yang alim dalam ilmu suluk serta mengerti secara mendalam perkataan dan isyarat-isyarat ahli tasawuf serta hal-hal spesifik mereka. Beliau dalam dalam semua bidang keilmuan ini memiliki jangkauan yang luas.”

Murid beliau yang lain, yakni al-Hafizh al-Mufassir Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau menyimak hadits dan menyibukkan diri dalam ilmu hadits. Dan beliau menunjukkan kematangan dalam banyak ragam ilmu Islam terlebih dalam ilmu Tafsir, hadits dan Ushul Fiqh serta Qawa`id Fiqh. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali ke negeri Mesir, beliau lalu mulazamah kepadanya hngga Syaikhul islam wafat. Beliau menimba ilmu yang sangat banyak darinya disertai dengan kesibukan beliau dalam hal ilmu sebelumnya. Akhirnya beliau adalah yang paling diunggulkan dalam banyak ilmu-ilmu Islam, …”

Adz-Dzahabi berkata, “Beliau telah memberikan perhatian pada ilmu hadits, matan maupun tentang hal ihwal perawinya. Dan beliau juga berkecimpung dalam ilmu fiqh, dan membaguskan penempatannya, …”
Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata, “Beliau menguasai banyak ilmu-ilmu Islam telebih dalam ilmu tafsir, ushul baik berupa inferensi zhahir maupun yang tersirat (mafhum).”

Al-‘Allamah ash-Shafadi mengatakan, “Beliau sangat menyibukkan diri dengan ilmu dan dalam dialog. Juga bersungguh-sungguh dan terfokuskan dalam menuntut ilmu. Beliau telah menulis banyak karya ilmiyah dan menjadi salah seorang dari imam-imam terkemuka dalam ilmu tafsir, hadits, ushul fiqh maupun ushul ilmu kalam, cabang-cabang ilmu bahasa Arab. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah tidaklah meninggalkan seorang murid yang semisal dengannya.”

Pujian juga datang dari banyak ulama besar lainnya, semisal dari imam al-‘Allamah Ibnu Taghribardi, al-‘Allamah al-Miqriizi, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaani, al-Imam asy-Suyuthi, al-‘allamah asy-Syaukani dan selainnya.

Guru-guru beliau

Berikut ini adalah nama-nama masyaikh/guru-guru beliau yang terkenal,

Ayahanda beliau yaitu Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad az-Zura’I ad-Dimasyqi. Dimana Ibnul Qayyim menyadur ilmu Faraidh dari beliau.
Abu Bakar bin Zainuddin Ahmad bin Abdu ad-Daa`im bin Ni’mah an-Naabilisi ash-Shalihi. Beliau dijuluki al-Muhtaal. (wafat 718 H)
Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Abil-Qasim bin Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi al-Hanbali. (wafat 728 H). Beliau adalah guru Ibnul Qayyim yang paling populer, dimana Ibnul Qayyim rahimahullah mulazamah dalam banyak bidang-bidang keilmuan darinya.
Abu al-‘Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Abdul Mun’im bin Ni’mah Syihabuddin an-Nabilisi al-Hanbali. 9wafat 697 H).
Syamsuddin abu Nashr Muhammad bin ‘Imaduddin Abu al-Fadhl Muhammad bin Syamsuddin Abu Nashr Muhammad bin Hibatullah al-Farisi ad-Dimasyqi al-Mizzi. (wafat 723 H)
Majduddin Abu Bakar bin Muhammad bin Qasim al-Murasi at-Tuunisi. 9wafat 718 H)
Abu al-Fida` Ismail bin Muhammad bin Ismail bin al-Farra` al-Harrani ad-Dimasyqi, syaikhul Hanabilah di Damaskus. (wafat 729 H)
Shadruddin Abu al-Fida` Ismail bin Yusuf bin Maktum bin Ahmad al-Qaisi as-Suwaidi ad-Dimasyqi (wafat 716 H)
Zainuddin Ayyub bin Ni’mah bin Muhammad bin Ni’mah an-Naabilisi ad-Dimasyqi al-Kahhaal. (wafat 730 H).
Taqiyuddin Abu al-Fadhl Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Umar bin qudamah al-Maqdisi ash-Shalihi al-Hanbali. (wafat 715 H).
Syarafuddin Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi, saudara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (wafat 727 H).
‘Alauddin Ali bin al-Muzhaffar bin Ibrahim Abul hasan al-Kindi al-Iskandari ad-Dimasyqi. (wafat 716 H)
Syarafuddin Isa bin Abdurrahman bin Ma’aali bin Ahmad al-Mutha’im Abu Muhammad al-Maqdisi ash-Shalihi al-hanbali. (wafat 717 H)
Fathimah binti asy-Syaikh Ibrahim bin Mahmud bin Jauhar al-Ba’labakki. (wafat 711 H).
Baha`uddin Abul al-Qasim al-Qasim bin asy-Syaikh Badruddin Abu Ghalib al-Muzhaffar bin Najmuddin bin Abu ats-Tsanaa` Mahmud bin Asakir ad-Dimasyqi. (wafat 723 H).
Qadhi Qudhaat Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’adullah bin Jama`ah al-Kinaani al-Hamawi asy-Syafi’i. (wafat 733 H).
Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu al-Fath bin Abu al-Fadhl al-Ba’labakki al-Hanbali. (wafat 709 H)
Shafiyuddin Muhammad bin Abdurrahim bin Muhammad al-Armawi asy-Syafi’I al-Mutakallim al-Ushuli, Abu Abdillah al-Hindi. (wafat 715)
Al-Hafizh Yusuf bin Zakiyuddin Abdurrahman bin Yusuf bin Ali al-Halabi al-Mizzi ad-Dimasyqi. (wafat 742 h).
Murid-murid beliau

Ketenaran al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah serta kedudukan ilmiyah beliau yang tinggi menjadikan banyak klangan ulama terkenal yang mengagungkan dan berguru kepada beliau. Demikian banyak ulama dan selain mereka yang mengambil ilmu dan berdesakan di majlis Ibnul Qayyim rahimahullah. Dari mereka yang menimba ilmu dari Ibnul Qayyim, bermunculan para pakar dibidang ilmu tertentu. Diantara murid-murid beliau,

Anak beliau Burhanuddin bin al-Imam Ibnul Qayyim.
Anak beliau Jamaluddin bin al-Imam Ibnul Qayyim.
Al-Hafizh al-Mufassir Abu al-Fida` Ismail bin Umar bin Katsir al-Qaisi ad-Dimasyqi.
Al-Hafizh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hasani al-Baghdadi al-Habali.
Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdul hadi bin Yusuf bin Qudamah al-Maqdisi ash-Shalihi.
Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhyiddin Utsman al-Ja’fari an-Naabilisi al-Hanbali.
Dan lain sebagainya.
Kepribadian Syaikhul Islam Ibnul Qayyim

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah, selain dikenal dengan keluasan ilmu dan pengetahuan beliau akan ilmu-ilmu Islam, beliau juga seorang yang tidak melupakan hubungan beliau dengan penciptanya. Adalah beliau seorang yang dikenal dengan sifat-sifat mulia, baik dalam ibadah maupun akhlak dan prilaku beliau. Beliau adalah seorang yang senantiasa menjaga peribadatan dan kekhusyu’an dalam ibadah. Selalu berinabah dan menundukkan hati kepada-Nya. Seluruh waktu beliau habis tercurah untuk wirid, dzikir dan ibadah. Beliau juga seorang yang dikenal dengan banyaknya tahajjud, sifat wara`, zuhud, muraqabah kepada Allah dan segala bentuk amal-amal ibadah lainnya. Kitab-kitab beliau semisal Miftaah Daar as-Sa’adah, Madaarij as-Salikin, al-Fawaa`id, Ighatsah al-ahafaah, thariiq al-Hijratain dan selainnya adalah bukti akan keutamaan beliau dalam hal ini.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-hanbali berkata, “Adalah beliau seorang yang selalu menjaga ibadah dan tahajjud. Beliau seringkali memanjangkan shalat hingga batas yang lama, mendesah dan berdesis dalam dzikir, hati beliau diliputi rasa cinta kepada-Nya, senantiasa ber-inabah dan memohon ampunan dari-Nya, berserah diri hanya kepada Allah, … tidaklah saya pernah melihat yang semisal beliau dalam hal itu, dan juga saya belum pernah melihat seseorang yang lebih luas wawasan keilmuan dan pengetahuan akan kandungan makna-makna al-qur`an dan as-Sunnah serta hakikat kimanan dari pada beliau. Beliau tidaklah ma’shum, akan tetapi saya belum melihat semisal beliau dalam makna tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, menyifati panjangnya shalat beliau, “Saya tidak mengetahui seorang alim di muka bumi ini pada zaman kami yang lebih banyak ibadahnya dibandingkan dengan beliau. Beliau sangatlah memanjangkan shalat, melamakan ruku’ dan sujud, …”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri beliau, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dan adalah beliau –Ibnul Qayyim- berkata, “Dengan kesabaran dan kemiskinan akan teraih kepemimpinan dalam hal agama.”
Dan beliau juga berkata, “Haruslah bagi seorang yang meniti jalan hidayah memiliki kemauan kuat yang akan mendorongnya dan mengangkatnya serta ilmu yang akan menjadikannya mengerti/yakin dan memberinya hidayah/petunjuk.”

Sementara akhlak dan kepribadian beliau dalam mu’amalah, sebagaimana yang disampaikan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir, “Beliau seorang yang sangat indah bacaan al-qur`an-nya serta akhlak yang terpuji. Sangat penyayang, tidak sekalipun bliau hasad kepada seseorang dan tidka juga menyakitinya. Beliau tidak pernah mencerca dan berlaku dengki kepada siapapun juga. Saya sendiri adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai beliau.”
Beliau juga mengatakan, “Dan sebagian besa ryang tampak pada diri beliau adalah keaikan dan akhlak yang shalih.”

Karya Ilmiah beliau

Karya ilmiyah syaikhul islam Ibnul Qayyim sangatlah banyak dan dalam berbagai jenis disiplin keilmuan. Asy-Syaikh al-‘Allamah Bakr bin Abu Zaid mengumpulkan karya ilmiyah beliau dan mencapai 96 judul, diantaranya yang populer,

Kitab Zaad al-Ma’ad al-hadyu ilaa Sabiil ar-Rasyaad.
A’laam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamiin.
Ahkaam Ahli adz-Dzimmah.
Madaarij as-Saalikin.
Tuhfah al-Maudud bi-Ahkaam al-mauluud.
Ath-Thuruq al-Hukmiyah fii as-Siyasah asy-Syar’iyah.
Ighatsah al-Lahafaan.
Ash-Shawaa`iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyah wal-Mu’aththilah.
Al-Furusiyah.
Ash-shalah wa Hukmu Taarikihaa.
Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththliah wal-Jahmiyah.
Syifa`u al-‘alil fii Masaa`il al-Qadha` wal-Qadar wal-Hikmah wat-Ta’liil.
Al-Kafiyah asy-Syafiyah fii al-Intishar lil-Firqah an-Najiyah.
‘Iddah ash-Shabirina wa Dzakhirah asy-Syakirin.
Ad-Daa`u wad-Dawaa’u
Bada’I al-Fawaa`id.
Al-Fawaa`id
Miftaah Daar as-Sa’adah
Al-Manaar al-Muniif fii ash-Shahih wadh-Dha’if.
Tahdzib Sunan Abi Dawud wa iidhah Muskilaatihi wa ‘Ilalihi.
Hidayah al-Hiyaara fii Ajwibah al-Yahuud wan-Nashaara.
Dan masih banyak lagi lainnya.
Wafat beliau

Beliau wafat pada malam kamis pada tanggal tiga belas Rajab pada sat adzan isya tahun 751 H. Dimana beliau telah memasuki usia enam puluh tanuh. Dan beliau dishalatkan pada keesokan harinya di masjid jami’ al-Umawi setelah shalat dhuhur. Dan beliau dimakamkan di pemakaman al-Bab ash-shaghir disambing makam ibnuda beliau. Pemakaman beliau turut dipersaksikan oleh para qadhi, kaum terkemuka, tokoh-tokoh agama dan pemerintahan serta orang-orang yang shalih dan khalayak ramai. Semoga Allah merahmati beliau dan melapangkan kediaman beliau dialam berikutnya.

Ditulis oleh : Al-Ustadz Rishky Abu Zakariya melalui Ahlussunnah-jakarta.com

IMAM SYAFII, PERUMUS ILMU USHUL FIQH

Ilmu ushul fiqh adalah sebuah kajian luar biasa yang mampu meringkas begitu banyak teks yang memiliki konsekuensi hukum yang sama menjadi sebuah formula yang sederhana. Ilmu ini digunakan para ulama dalam mengambil kesimpulan hukum. Menyederhanakan masalah yang pelik menjadi mudah butuh kecerdasan dan pemahaman yang mendalam. Oleh karena itulah, seseorang yang menciptakan ilmu ushul fiqh ini pasti memiliki kecerdasan yang luar biasa dan pemahaman yang mendalam tentang ilmu-ilmu syariat. Ilmu ini pertama kali dirumuskan oleh Muhammad bin Idris asy-Syafii atau lebih dikenal dengan Imam Syafii.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Nasab Imam Syafii dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu pada kakek mereka Abdu Manaf. Jadi, Imam Syafii adalah seorang laki-laki Quraisy asli. Adapun ibunya adalah seorang dari Bani Azdi atau Asad.

Imam Syafii dilahirkan pada tahun 150 H/767 M di Kota Gaza, Palestina. Tahun kelahiran beliau bertepatan dengan wafatnya salah seorang ulama besar Islam, yakni Imam Abu Hanifah rahimahullah. Ayahnya wafat saat Syafii masih kecil sehingga ibunya memutuskan untuk hijrah ke Mekah agar Syafii mendapatkan santunan dari keluarganya dan nasabnya pun terjaga.

Di Mekah, Syafii kecil mulai mempelajari bahasa Arab, ilmu-ilmu syariat, dan sejarah. Ia terkenal sebagai seoarang anak yang cerdas,  di usia enam atau tujuh tahun 30 juz Alquran sudah sempurna bersemayam di dalam dadanya. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang baginya dalam menuntut ilmu, Syafii mencatat palajarannya di atas tulang-tulang hewan atau kulit-kulit yang berserakan. Namun ia dimudahkan dengan karunia Allah berupa daya hafal yang sangat kuat sehingga beban ekonomi untuk membeli buku dan kertas bisa terganti. Setelah beliau merasa cukup menuntut ilmu di Mekah, Madinah menjadi destinasi berikutnya dalam menimba ilmu. Di sana adaseorang ulama yang dalam ilmunya, yakni Imam Malik rahimahullah.

Proses Menuntut Ilmu

Saat menginjak usia 13 tahun, gubernur Mekah mendorongnya agar belajar ke Madinah di bawah bimbingan Imam Malik. Selama belajar kepada Imam Malik, sang imam negeri Madinah sangat terkesan dengan kemampuan yang dimiliki remaja dari Bani Hasyim ini. Kemampuan analisis dan kecerdasannya benar-benar membuat Imam Malik kagum sehingga Imam Malik menjadikannya sebagai asistennya dalam mengajar. Padahal kita ketahui, Imam Malik adalah seorang yang sangat selektif dan benar-benar tidak sembarangan dalam permasalahan ilmu agama, tapi kemampuan Syafii muda memang pantas mendapatkan tempat istimewa.

Di Madinah, Imam Syafii larut dalam lautan ilmu para ulama. Selain belajar kepada Imam Malik, beliau juga belajar kepada Imam Muhammad asy-Syaibani, salah seorang murid senior Imam Abu Hanifah. Di antara guru-guru Imam Syfaii di Madinah adalah Ibrahim bin Saad al-Anshari, Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawaridi, Ibrahim bin Abi Yahya, Muhammad bin Said bin Abi Fudaik, dan Abdullah bin Nafi ash-Sha-igh.

Adapun di Yaman, beliau belajar kepada Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf yang merupakan hakim di Kota Shan’a, Amr bin Abi Salama, salah seorang sahabat Imam al-Auza’i, dan Yahya bin Hasan. Sedangkan di Irak beliau belajar kepada Waki’ bin Jarrah, Abu Usamah Hamad bin Usamah al-Kufiyani, Ismail bin Aliyah, dan Abdullah bin Abdul Majid al-Bashriyani.

Dengan kesungguhannya dalam mempelajari ilmu syariat ditambah kecerdasan yang luar biasa, Imam Syafii mulai dipandang sebagai salah seorang ulama besar. Terlebih ketika gurunya yang mulia, Imam Malik wafat pada tahun 795, Imam Syafii yang baru menginjak usia 20 tahun dianggap sebagai salah seorang yan paling berilmu di muka bumi kala itu.

Di antara keistimewaan fikih Imam Syafii adalah beliau mampu menggabungkan dua kelompok yang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami fikih. Kelompok pertama dikenal dengan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang mencukupkan diri dengan hadis tanpa butuh intepretasi atau analogi-analogi (qias) dalam menetapkan suatu hukum. Sedangkan kelompok lainnya dikenal dengan ahlu ra’yi atau mereka yang menggunakan hadis sebagai landasan penetapan hukum namun selain itu mereka juga memakai analogi-analogi dalam menetapkan hukum. Imam Syafii mampu mengkompromikan dua kelompok ini bisa menerima satu sama lainnya.

Ibadah Imam Syafii

Tidak diragukan lagi, seorang ulama yang terpandang selain memiliki keilmuan yang luas, mereka juga merupakan teladan dalam beribadah. Ar-Rabi’ mengatakan, “Imam Syafii membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah untuk menulis, bagian kedua untuk shalat, dan bagian ketiganya untuk tidur.”

Di malam hari beliau tidak pernah terlihat membaca Alquran melalui mush-haf, akan tetapi bacaan beliau di malam hari hanya dilantunkan dalam shalat-shalatnya. Al-Muzani mengatakan, “Saat malam hari, aku tidak pernah sekalipun melihat asy-Syafii membaca Alquran melalui mush-haf. Ia membacanya saat sedang shalat malam (melalui hafalan pen.).”

Kefasihan Bahasa Imam Syafii

Selain menjadi bintang dalam ilmu fiqh, Imam Syafi’i juga dikenal dengan kefasihan dan pengetahuannya tentang bahasa Arab. Beliau belajar bahasa Arab kepada seorang Arab desa yang bahasa Arabnya fasih dan murni. Hal itu serupa dengan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menitipkan beliau kepada ibu susunya yang berasal dari desa, tujuannya agar bahasa Arab Nabi berkembang menjadi bahasa Arab yang fasih ketika tumbuh dewasa. Ibnu Hisyam bercerita tentang kefasihan Imam Syafii, “Saya tidak pernah mendengar dia (Imam Syafi’i) menggunakan apa pun selain sebuah kata yang sangat tepat maknanya, seseorang tidak akan menemukan sebuah pilihan diksi bahasa Arab yang lebih baik dan lebih pas dalam mengungkapkan suatu kalimat.”

Perjalanan Hidupnya

Tidak lama setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafii ditugaskan pemerintah Abasiyah ke Yaman untuk menjadi hakim di wilayah tersebut. Namun beliau tidak lama memangku jabatan tersebut karena jabatan hakim secara tidak langsung menghubungkannya dengan dunia politik yang sering mengkompromikan antara kebohongan dengan kejujuran, dan beliau tidak merasa nyaman dengan hal yang demikian.

Setelah itu, beliau berpindah menuju Baghdad dan menyebarkan ilmu di ibu kota kekhalifahan tersebut. Kehidupan beliau di Baghdad dipenuhi dengan dakwah dan mengajar, bahkan beliau sempat berkunjung ke Suriah dan negeri-negeri di semenanjung Arab lainnya  untuk menyebarkan pemahaman tentang Islam. Sekembalinya ke Baghdad, kekhalifahan telah dipegang oleh al-Makmun.

Al-Makmun memiliki pemahaman yang menyimpang tentang Alquran. Ia menganut paham Mu’tazilah yang mengedepankan logika dibandingkan wahyu Alquran dan sunnah. Al-Makmun meyakini bahwasanya Alquran adalah makhluk, sama halnya seperti manusia. Pemahaman ini berkonsekuensi menyepadankan antara logika manusia dengan Alquran, artinya Alquran pun tidak mutlak benar sebagaimana akal manusia. Tentu saja keyakinan ini bertentangan dengan keyakinan Imam Syafii dan ulama-ulama Islam sebelum beliau yang menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah, yang kebenarannya absolut.

Al-Makmun memaksa semua orang agar memiliki pemahaman yang sama dengannya. Banyak para ulama ditangkap dan disiksa karena peristiwa yang dikenal dengan khalqu Alquran ini. Akhirnya, pada tahun 814, Imam Syafii hijrah menuju Mesir, negeri dimana beliau berhasil merumuskan ilmu ushul fiqh.

Wafatnya

Sebagaimana lazimnya manusia lainnya, sebelum wafat Imam Syafii juga merasakat masa-masa sakit. Dalam keadaan tersebut, salah seorang muridnya yang bernama al-Muzani mengunjunginya dan bertanya, “Bagaiaman keadaan pagimu?” Imam Syafii, “Pagi hariku adalah saat-saat pergi meninggalkan dunia, perpisahan dengan sanak saudara, jauh dari gelas tempat melepas dahaga, kemudian aku akan menghadap Allah. Aku tidak tahu kemana ruhku akan pergi, apakah ke surga dan aku pun selamat ataukah ke neraka dan aku pun berduka.” Kemudian beliau menangis.

Imam Syafii dimakamkan di Kairo pada hari Jumat di awal bulan Sya’ban 204 H/820 M. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Semoga Allah merahmati, menerima semua amalan, dan mengampuni kesalahan-kesalahan beliau.